expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Kamis, 08 Agustus 2013

Selamat Idul Fitri 1434 H

Alhamdulilah... setelah satu bulan melaksanakan ibadah puasa, kita sebagai umat Muslim merayakan hari raya Idul Fitri 1434 H.
Alhamdulilah... karena masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini beserta dengan keluarga dan teman-teman tersayang. Ramadhan pertama saya sebagai seorang istri yang tinggal di rumah mertua dan juga Ramadhan pertama saya sebagai seorang penggangguran, (kan baru tahun kemarin lulus), xixixi....
Alhamdulilah...
Semoga kita semua beserta keluarga dan teman-teman kita tercinta kembali dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan dan semoga semua amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT., serta semoga kita dapat meng-istiqamahkan ibadah-ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan di bulan-bulan berikutnya, aamiin....
Bagi teman-teman yang akan dan sedang mudik hingga kembali, selalu berhati-hati ya. Nyalakan lampu sen kendaraan ketika akan berbelok, menepi dan beristirahat ketika lelah dan mengantuk, serta nyantaaaaiiii aja mas mbak brow :). Kita semua ingin pulang dan kembali dengan keadaan selamat dan sehat walafiat, ya kan?
Akhir kata, saya ingin mengucapkan Selamat Idul Fitri 1434 H. Taqabbalallahu minna wa minkum wa shiyamana wa shiyamakum. Maafkan bila ada postingan-postingan saya yang tidak berkenan yaaaa :)

Rabu, 07 Agustus 2013

Danau Bandung Purba

Pernah denger dong tentang danau Bandung purba?
Itu tu yang katanya merupakan asal muasal kota Bandung yang sekarang ini. Danau Bandung Purba atau yang dikenal dengan nama Sang Hyang Tikoro.
Saya kira danau purba terletak di kawasan Dago atau Lembang, karena kalau melihat di televisi, kelihatannya danau Bandung purba itu berada di tempat yang dingin dan sejuk karena masih banyak pepohonan.
Tetapi saya salah. Ternyata danau Bandung purba berada di kawasan Saguling, Rajamandala, Bandung Barat. Bila teman-teman sering melintasi kawasan Padalarang hingga Cianjur, tentu saja teman-teman akan melewati sebuah gapura besar yang bertuliskan Waduk Saguling.
Nah, dari gapura tersebut teman-teman masuk terus saja mengikuti jalan besar. Jalan tersebut berkelak-kelok dan juga naik-turun, tapi kalau menuju ke danau Bandung purba banyaknya sih jalannya menurun. Nanti akan ada sebuah persimpangan dengan papan penunjuk jalan dengan tulisan PLTA Saguling dan Waduk Saguling. Nah, teman-teman harus melewati jalan yang menuju ke PLTA Saguling, karena disanalah danau Bandung purba berada. 
Jadi, ya begitulah, disanalah aliran sungai danau purba tenggelam ke perut bumi,
Hahaha... ga jelas banget ya ni postingan saya kali ini? Tapi begitulah, saking terpesonanya saya, hehe...

Senin, 05 Agustus 2013

Download ONET

Haaaaa.... udah pada tau kan tentang game onet? 
Itu tu permainan komputer yang mencocokkan gambar,xixixi
Permainan ini adalah permainan kenangan bagi saya dan teman-teman satu kosan waktu kuliah dulu. Karena permainan ini mampu membuat kami melek semalaman (padahal besoknya ada kuliah pagi, ahahaha) hanya untuk mencocokkan gambar.
Sebenarnya ini permainan yang sederhana, kuncinya hanya satu, fokus dan konsentrasi. Karena beberapa gambar yang harus dicocokkan agak serupa, xixixixi....
Penasaran? Monggo langsung di unduh aja ya. Tapi bentar, seiring perkembangan zaman (ceilah), jadi permainan onet disini adalah permainan onet untuk windows 7 dan 8. Ga terlalu ribet, asalkan baca dulu instruksinya biar bisa langsung dimainkan. Sedangkan onet untuk android udah bisa di unduh di google play, malahan di android ada onet buahnya, yang benar-benar memusingkan. Sedangkan buat teman-teman yang masih menggunakan windows xp dan vista, googling lagi yaaa... hehe.
Terima kasih untuk sumber saya, tanpamu saya tidak bisa main onet di windows 7 (lebay).
Finally, silakan download game onet untuk windows 7 dan 8 di sini

Selasa, 02 Juli 2013

Gunung Padang

"Karena malam mempunyai kekuatan tersendiri untuk membangkitkan harapan yang tak terwujudkan dan kenangan yang terlupakan

Xixixi... itulah sebaris kalimat yang tiba-tiba terbesit dalam pikiran saya malam ini. Malam ini saya ingin flashback ke masa lalu. Bercerita tentang secuil aktivitas yang pernah saya lakukan ketika masa putih abu-abu.
Dulu, ketika saya kelas dua SMA, saya diajak seorang sahabat dekat untuk pergi ke Gunung Padang. Pada masa itu, Gunung Padang itu masih sepi dan jarang diketahui oleh orang banyak. Bahkan salah seorang teman saya yang asli Cianjur sama sekali tidak tahu dimana letak Gunung Padang itu sendiri. Kami bermodal nekat, karena waktu itu saya pergi hanya berenam dan wanita semua. Kami tidak tahu jalan, kami hanya bermodalkan keinginan dan keberanian untuk bertanya agar kami tidak tersesat. Mulanya kami berempat berjanji bertemu di daerah Pasir Hayam, Cianjur (sekarang terminal Pasir Hayam). Dari sana, kami naik angkot -saya lupa lagi- hingga tiba di stasiun terakhir. Setelah itu kami turun. Saya ingat sekali, pada waktu itu kami bingung, harus naik apa lagi, karena tidak ada angkutan umum ataupun ojek. Akhirnya kami pun berjalan kaki. Setelah hampir satu jam kami berjalan kaki, kami masih belum menemukan tanda apapun tentang Gunung Padang, sempat kami memutuskan untuk pulang lagi hingga kemudian, sebuah mobil pick up meng-klaksoni kami. Ternyata, dua orang teman kami sudah naik di mobil tersebut. Kami merasa sangat senang dan juga kembali bersemangat. Akhirnya kami pun menumpang pada mobil tersebut. Ternyata, Gunung Padang itu sendiri masih sangat jauh. Kami sangat bersyukur bertemu supir mobil pick up tersebut di waktu yang tepat, karena bila kami masih saja nekat untuk berjalan kaki, mungkin kami akan berjalan sepanjang hari. 
Mobil itu tidak mengantarkan kami ke Gunung Padang, tapi setidaknya, kami hanya tinggal berjalan kaki sejauh 7km lagi untuk tiba di Gunung Padang. Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 7 km.
Bukan perjalanan yang mudah, tentu saja. jalanan pada waktu itu masih berupa batu-batu kasar dan tanah juga kerikil dan tentu saja naik turun serta berliku. Tapi, percayalah, pemandangan pun tak kalah indahnya. hutan bambu, perkebunan teh, itu lah yang kami lihat. Hingga akhirnya kami tiba di kaki Gunung Padang. Kami beristirahat lagi untuk yang kesekian kalinya di sebuah pondok bambu sederhana. Ada sebuah aliran air, waktu itu kami bertemu dengan kuncen Gunung Padang, dia bilang air tersebut masih bersih sehingga kami bisa langsung meminumnya tanpa memasaknya terlebih dahulu. Benar-benar sangat segar airnya.
Kami pun lalu mulai menaiki tangga Gunung Padang, yang katanya seribu anak tangga, entah benar atau tidak, tapi yang pasti tangga tersebut sangat curam. Ketinggian anak tangga yang tidak sama juga lebarnya yang berbeda-beda otomatis membuat kami sangat lelah walaupun baru menaiki beberapa anak tangga saja. Tapi itulah sense -nya hehe...
Kami pun tiba di puncak Gunung Padang, sejauh mata memandang yang tampak hanyalah bebatuan yang berserakan tidak karuan. Karena waktu itu kami masih pada cupu, tidak ada seorang pun dari kami yang membawa kamera ataupun memiliki handphone dengan kamera. Jadi, semua itu hanya tersimpan dalam benak kami masing-masing.
Kami duduk-duduk di sebuah batu untuk melepas lelah, bodohnya kami, kami pun tidak membawa makanan untuk kami makan disana, hahaha....
Ketika duduk, iseng-iseng kami memukul salah satu batu, dan ternyata batu-batu tersebut bisa berbunyi. Itulah batu yang sekarang disebut batu degungan.
Kami tidak lama berada di Gunung Padang, setelah setengah jam kami berada di sana kami memutuskan untuk pulang. Well, kami kembali bertanya pada si kuncen Gunung Padang, sambil mengisi ulang air minum kami dari air yang ada di sana tadi, hehe...
Ternyata, di tempat kami berhenti naik mobil pick up tadi ada sebuah stasiun kereta api. Sehingga kami bisa pulang tanpa harus berjalan kaki lagi, (walaupun untuk ke stasiun kami tetap harus berjalan kaki sejauh 7km, ahahaha). Dengan penuh semangat kami berjalan menuju stasiun, tiba di stasiun kami langsung membeli tiket kereta api (waktu itu harganya cuma Rp. 1500,-). Kereta tiba pukul 15.00 menuju Cianjur. Kami pun tiba di Cianjur sekitar pukul 17.00. Sangat gembira walaupun sangat lelah karena berjalan kaki sejauh 14 km lebih, hehehe.... dan juga kelaparan. 
Hingga tulisan ini dimuat, tidak ada seorang orang tua pun yang tahu bahwa kami berenam pernah pergi ke Gunung Padang :)
Sebuah kenakalan yang tidak boleh dilakukan dan ditiru yaaaaa....
Ini kenangan, apa kenanganmu? :)

Selasa, 18 Juni 2013

Gunung Puntang

Sekarang, tepatnya setelah menikah, saya ikut suami tinggal di daerah Gunung Puntang.
Haaaa... ada yang pernah mendengar nama Gunung Puntang? Atau malah ada yang pernah berkunjung ke sana?
Gunung Puntang adalah sebuah kawasan di daerah Bandung Selatan. Dari Bandung, kita mengambil jalan Moh. Toha dan lurus terus hingga berada di pertigaan Dayeh Kolot. Kalo kita tetap lurus, kita akan masuk ke jalan Buah Batu. Jadi kita harus berbelok ke kanan. Nah setelah melewati jembatan sungai Citarum, ada pos satpam di pertigaan. Bila kita mengambil arah kiri, kita akan pergi ke Ciparay dan nembus ke Majalaya. Jadi, kita mengambil arah kanan lagi. Dari sana kita lurus terus, melewati Banjaran ke arah Pangalengan. Setelah melewati pasar Banjaran, jalan akan mulai berlika-liku. pemandangan yang indah pun akan dapat kita nikmati. Ketika kita menemukan pertigaan dengan patung singa / macan, kita ambil arah kiri. Kalo lurus, kita akan ke Pangalengan. Dari sana, kita akan segera tiba di Gunung Puntang.
Ketika masa kuliah dulu, pernah sekali saya berkemah di gunung Puntang. Udara sangat dingin di sana. Sinyal, yaaah dikit-dikit ada lah, hehe...
Ketika saya berkemah dulu, saya sempat mengobrol dengan penduduk setempat, ternyata, Gunung Puntang dulunya ditempati oleh orang-orang Belanda. Bahkan, ada stasiun pemancar radio terkuat se-Asia. Karena stasiun tersebut menghubungkan orang Belanda yang berada di Indonesia dengan orang Belanda yang berada di Belanda. Wuaaaah keren yaa?!
Stasiun pemancar radio tersebut di sebut dengan radio Malabar. Sayangnya, stasiun radio tersebut terbakar pada saat kejadian "Bandung Lautan Api" (sumbernya menurut penduduk lokal yah), sehingga kini yang tersisa hanyalah puing-puing bangunannya saja.
Karena ada stasiun pemancar, tentu saja, dulu Gunung Puntang ramai oleh penduduk orang Belanda. Ada satu kolam yang unik ketika berada di sana, yaitu kolam cinta. Kenapa disebut kolam cinta? Karena kolam tersebut memang berbentuk hati (cinta), dan ceritanya dulu orang-orang Belanda memadu kasih (alaaaaah) di tepi kolam tersebut. Dulu, kolam cinta airnya jernih dan bening, sekarang kolam cinta hanya diisi air bila ada peserta kemah yang membutuhkan untuk menggunakannya, selebihnya diisi oleh air hujan.
Selain itu, di Gunung Puntang juga terdapat sungai, airnya, jangan ditanya, super dingin dan super jernih. Kemudian, ada Gua Belanda, saya sendiri belum pernah masuk ke gua Belanda yang di Gunung Puntang (pernah masuk gua Belanda yang di Dago Pakar).
Selain itu, di Gunung Puntang juga ada hutan pinus. Saya dapat melihat hutan pinus dari ladang ayah mertua saya, yang memang berbatasan langsung dengan hutan pinus. Tempat ini juga sering dijadikan sebagai ajang motor track. Itu tuh yang balapan motor di tempat yang basah-basah, becek, dan ga asik, hehe...
Satu hal yang tidak mungkin terlupa di Gunung Puntang, yaitu air terjun / Curug Siliwangi.
Katanya sih, indah banget itu curug. Saya sendiri (lagi-lagi) belum pernah main ke sana. Karena menurut ayah mertua saya, letaknya sangat jauh dengan medan yang lumayan sulit.
Bila malam hari tiba dan cuaca sangat cerah, kita akan bisa menyaksikan lautan lampu dari arah Lembang, Bandung, dan Soreang. Bila pagi hari cerah, kita akan bisa melihat gunung Tangkuban Perahu dari kejauhan.
Oke, begitulah sekelumit cerita saya mengenai Gunung Puntang.
Biarlah foto yang berbicara lebih lanjut :)






 Sawah








Ladang jagung













Terlihatkah gunung Tangkuban Perahu?











 Senja di atas langit Gunung Halu, Ciwidey