expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Jumat, 20 Juli 2018

Resep: Ikan cobek

Saya ngiler ketika melihat teman di kontak saya, yang memang dia penjual makanan, yang selalu iklan menu andalannya, yaitu ikan cobek. Saya pun pernah mencicipinya sekali, dan rasanya bikin ketagihan. Sayangnya, teman saya itu tinggal di Cianjur sedangkan saya di Bandung Selatan. Akhirnya, saya pun membuat sendiri ikan cobek versi saya, qadarullah di mang sayur ada ikan hehe....
Nah, ini resep ikan cobek versi saya.
Bahan:
- Ikan (saya dapatnya ikan nila yang besar, lalu saya potong jadi tiga bagian)
- Bawang merah 4 siung
- Bawang putih 2 siung
- Cengek/cabai sesuai selera (saya pakai 7 buah cengek yang agak besar)
- Bumbu ikan instan (atau pakai garam saja juga tidak apa-apa)

Cara membuat:
1. Cuci bersih ikan lalu lumuri dengan bumbu ikan instan (atau garam saja) selama satu jam. Saya sih semalaman.
2. Goreng ikan yang sudah dilumuri garam.
3. Sambil menggoreng ikan, kita buat sambal cobeknya dengan cara uleg kasar bawang merah, bawang putih, dan cengek.
4. Ikan matang,angkat dan tiriskan. Lalu ganti wajan (atau bisa menggunakan wajan bekas menggoreng ikan tapi minyaknya dikurangi) untuk menumis sambal cobek.
5. Setelah wangi, tambahkan sedikit air tunggu hingga  mendidih, tambahkan garam, gula dan penyedap rasa (bila suka).
6. Cek rasa, bila sudah pas lalu masukkan ikan yang sudah digoreng.
7. Tunggu beberapa menit jangan lupa dibalik agar airnya meresap ke ikan.
8. Ikan cobek sudah siap untuk disantap dengan nasi hangat.

Kalau suka pedas, beri banyak cabai dan atau cengek. Berhubung suami kurang suka pedas, jadi saya cukup menggunakan 7 buah cengek saja. Rasanya mantap... Pengen nambah nambah lagi, hehehe...
Oiya, tentunya resep saya ini ada beberapa versi ya. Resep ini saya dapatkan dari ibu saya. Silakan googling saja. Selamat memasak ^_^

Sabtu, 03 Februari 2018

Membuat Surat Penyataan Bebas NAPZA

Beberapa waktu yang lalu, untuk sebuah urusan yang mengharuskan saya membuat surat pernyataan bebas NAPZA. Awalnya, bingung karena tidak tahu harus kemana. Kemudian saya pun googling, dari beberapa sumber, disebutkan bahwa kita bisa membuat surat tersebut di kantor BNN, di RSUD, di Laboratorium, dan di Puskesmas. 
Kemudian, seorang teman menghubungi bahwa tidak bisa membuat surat tersebut di Laboratorium. Saya pun lalu pergi ke puskesmas terdekat untuk menanyakan sambil membuat surat pernyataan sehat. Petugas puskesmas lalu menjelaskan bahwa di puskesmas kecamatan dan kabupaten masih belum diberi izin untuk membuat surat pernyataan bebas napza. Saya harus pergi ke RSUD untuk membuat surat tersebut. 
Saya lalu membuat surat pernyataan sehat. Qadarullah, ketika saya sedang diperiksa tensi, petugas kesehatan yang memeriksa saya menanyakan untuk apa saya membuat surat pernyataan sehat. Saya pun lalu menjelaskan dengan singkat sambil mengatakan bahwa saya juga membutuhkan surat penyataan bebas napza. Ternyata si petugas kesehatan tersebut mengetahuinya, dia mengatakan bahwa saya bisa membuat surat pernyataan bebas napza di polres. 
Wah, subhanallah... bantuan datang tak terduga. Setelah mendapatkan surat pernyataan sehat, saya dan suami pun meluncur ke polres. 
Dan... setelah cek urin, saya pun mendapatkan surat pernyataan bebas napza. Alhamdulilah...

Membuat SKCK Baru

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat sebuah keputusan yang mengharuskan saya membuat surat SKCK. Dengan diantar suami tercinta, saya pun melajukan kendaraan ke polsek terdekat. Sudah pede karena merasa semua persyaratan sudah dibawa, ternyata saya kecele, hehe...
Untuk membuat SKCK diharuskan membawa surat pernyataan dari Kepala Desa, yang artinya kami harus meminta surat pengantar dari desa. Ke desalah kami, ternyata kami diminta untuk membawa surat pengantar dari pengurus RT/RW, haha...
Ya sudahlah, akhirnya suami pun pulang dan meminta surat pengantar dari RT/RW, setelah itu lalu diserahkan ke kantor desa untuk dibuatkan surat pengantar dari desa.
Setelah mendapatkan surat pengantar dari desa, kami pun kembali ke polsek.
Persyaratan yang harus dibawa untuk pengajuan SKCK:
1. Surat pengantar dari kantor desa
2. Fotokopi KTP (1 lembar)
3. Foto berwarna ukuran 4x6 (4 lembar)
4. Formulir pengajuan (disediakan di polsek, kita tinggal mengisi saja)
Semua syarat tersebut lalu dimasukkan ke dalam map (tergantung permintaan mapnya warna apa). Setelah itu, serahkan ke petugas, dan kita tinggal menunggu untuk dipanggil. Selesai sudah.

Curug Cibereum

Sudah lama saya ingin main ke curug Cibereum yang terletak di kaki gunung Gede - Pangrango tapi selalu saja ada halangannya. Akhirnya, penghujung tahun 2017 yang lalu alhamdulilah saya pun bisa main ke curug Cibereum dengan suami tercinta, haha...
Kalau mau dibilang nekat, ya memang nekat, karena cuaca saat itu sedang tidak menentu, kadang hujan dan kadang panas. Tapi kami tetap berangkat. Curug Cibereum berada di kawasan Cibodas, Cianjur. Jadi kami pun melajukan kendaraan ke sana. 
Tiba di pintu masuk Cibodas, ada beberapa orang petugas retribusi, kami mengatakan bahwa kami akan menuju ke curug Cibereum, si petugas langsung mengarahkan kami ke parkiran. Oiya, waktu itu kami bayar retribusinya sekitar Rp. 10.000,- (2 orang + motor). Kami melewati pasar Cibodas ketika seorang petugas parkir menghadang dan meminta kami parkir. Kami pun lantas parkir, helm di simpan motor. Suami memasang gembok di motor, semoga aman. Kemudian kami berjalan menuju pintu utama Kebun Raya Cibodas. 
Setelah tiba di depan pintu utama kebun raya Cibodas, kami berbelok ke kanan. Di situ ada papan petunjuk, kebun raya Cibodas, lapangan golf, dan curug Cibereum. Kami berjalan, agak menanjak di sini jalanannya. Lalu jalanan pun terbagi dua, yang agak besar menuju ke lapangan golf sedangkan yang kecil menuju ke curug Cibereum. Nah, foto di bawah ini adalah ujung dari jalan kecil tersebut. Disitu ada papan petunjuk jalan, mau kemana kita (kaya Dora the Explorer).
 Setelah papan petunjuk di atas, kita juga bisa melihat seperti di foto berikut.
Oiya, Curug Cibereum terletak di jalur pendakian gunung Gede - Pangrango, jadi kita tidak akan heran bila berpapasan dengan para pendaki dengan tas yang super gede. Ya iyalah, namanya juga mau berkemah, masa cuma bawa tas tangan aja, haha...
Setelah tanda tersebut, lalu kita akan menaiki tangga yang tersusun dari bebatuan yang tidak rata hingga ke tempat tiket masuk sekaligus pendaftaran bagi para pendaki. Pemanasan, haha...
Nah, itu penampakan karcisnya. Waktu itu, saya membayar Rp. 18.500/orang. Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan ke atas. Ternyata oh ternyata, perjalanan ke curug Cibereum tidak semudah yang saya bayangkan. Jalanannya yang menanjak dan berupa susunan bebatuan yang tidak rata itu yang membuat saya kelelahan.
Jalanan ke Curug Cibereum
Saya meminta suami berhenti beberapa kali, perjalanan dari tempat membeli karcis masuk hingga ke curug memakan waktu kurang lebih satu jam. Kanan dan kiri kami berupa pepohonan dan terkadang ada monyet-monyet yang bergelantungan.
Ada beberapa papan petunjuk di beberapa tempat yang menyebutkan bahwa tempat tersebut sering disinggahi oleh macan tutul. Waaah serius, membaca papan tersebut saya jadi tidak ingin berlama-lama di tempat tersebut. Apalagi saya hanya berdua dengan suami. 
Kalau sudah tiba di jalan yang seperti ini, artinya sudah setengah perjalanan
Tapi, setelah kami tiba di atas, subhanallah, terbayar sudah perjalanan berangkatnya. Air curug Cibereum yang dingin bikin betah. Kami berangkat dari tempat pembelian karcis sekitar jam 11 dan tiba di curug jam 12-an. 
Oiya, curugnya tidak hanya satu, tapi dua. Sehingga ketika curugnya yang satunya penuh dengan orang, kita bisa bermain di curug yang satunya lagi. Curug yang satu berada di belakang kamar mandi, sedangkan curug utamanya berada di depan, ketika kita tiba kita akan langsung terkena cipratan airnya.
Kami bermain air dan berfoto-foto sekitar sejam kemudian turun lagi karena memang saat itu sudah mulai gerimis romantis, hihihi...
Perjalanan turun juga tidak kalah melelahkan hehe... tapi karena ingin segera sampai rumah, yaa kami tetap memaksakan. Sekitar jam 2 kami pun sudah tiba di tempat parkir dan bersiap untuk pulang. 
Bagi para pendaki pemula seperti saya, saran saya adalah bawa air minum agak banyak. Atau bawa uang tunai agak banyak karena sebenarnya ada pedagang hingga ke curug. Kemudian bawa pakaian ganti kalau mau main air hingga basah. Kemudian, ini sih hanya menurut pendapat saya, jangan bawa anak-anak yang masih minta gendong. Kenapa? Karena itu (tampaknya) melelahkan bung! 
Beberapa kali saya berpapasan dan melewati pasangan-pasangan yang menggendong bayi hingga anak usia dibawah lima tahun, kasian saya melihatnya. Bergantian mereka menggendong si anak, belum lagi barang bawaan mereka ditambah jalanan yang menanjak belum lagi kalau si anak rewel. Ah, yang pasti (menurut saya), ini bukanlah wisata yang ramah anak-anak. Kecuali anak diatas usia 8 tahun.
Oiya, kami juga melewati Danau Biru, tapi saat kami melewati danau tersebut, airnya sedang berwarna coklat, tidak berwarna biru. Jadi kami tidak memfotonya hehe...
Sekian cerita saya, selebihnya silakan nikmati foto saja hehe...
Kalau sudah sampai jembatan ini, artinya Curug sudah semakin dekat
 

Papan petunjuk yang berada di tempat pembelian karcis

Kamis, 21 September 2017

Ngukur Jalan

Hari ini kan tanggal merah, sudah dari semalam saya merayu suami agar kami bisa pergi jalan-jalan. Akhirnya suami pun luluh dan kami memutuskan pergi.
Sudah lama saya ingin pergi ke kawah Rengganis di desa Rancabali, Ciwidey. Kami pun lalu menuju ke sana. Kami berangkat sekitar pukul setengah sepuluh pagi, sempat mampir dulu ke agen JNE untuk mengirim paket, (alhamdulilahnya JNE masih buka di hari libur :D) kami pun langsung meluncur ke arah Ciwidey.
Karena kami dari Banjaran, jadi lumayan dekat lah ya ke Ciwidey. Dari arah Banjaran lurus hingga pertigaan yang ada plang desa (saya lupa nama desanay lol), dari pertigaan tersebut lalu belok kiri. Kemudian keluar dari jalan tersebut, lalu belok kanan. Setelah itu, kita tinggal lurus saja mengikuti jalan hingga sampai ke tempat yang kita akan tuju.
Kami sempat isi bensin sebelum pasar Ciwidey, setelah itu kami kembali ke jalanan. Situasi saat kami pergi ke sana ramai lancar, ada rombongan dalam beberapa bus besar dan kecil, mobil pribadi dan pastinya motor yang juga akan pergi ke Ciwidey.
Setelah melewati pasar Ciwidey, tepatnya di daerah Alam Endah, kita sudah disuguhi kebun-kebun strawberry. Banyak tulisan "Petik sendiri" diantara tanaman tersebut. Maksudnya kita bebas memetik sendiri strawberry tapi tentu saja kita harus membayar untuk strawberry yang sudah kita petik, hehe...
Anak-anak pasti sangat suka. Sepanjang jalan juga banyak kami temui penginapan-penginapan dan juga hotel untuk para wisatawan yang ingin menginap. Juga banyak tempat makan-tempat makan yang pasti menyuguhkan pemandangan yang indah. Diantaranya Sindang Reret, Rumah Nenek, Bale Bambu, Ciwidey Valley Resort (yang kami lihat tidak hanya menyediakan penginapan tapi juga kolam renang dan rumah makan), dan ada pula taman kelinci.
Setelah melewati Ciwidey valley resort, kami mulai melewati perkebunan teh Ciwalini. Nah dari situ, mulai berjajar lagi tempat-tempat wisata seperti pintu masuk ke Kawah Putih yang tepat di depannya ada pemandian air panas Cimanggu, Cimanggu resort, Barusen Hill, Green hill park, Kampung pa'go, kolam air panas Ciwalini, Ranca Upas. Setelah melewati kolam Ciwalini, kita akan kembali disuguhi perkebunan teh yang terhampar luas. Hingga masuk ke perkebunan teh Rancabali.
Nah, dari sini kita akan menemukan papan petunjuk jalan antara Situ Patengang dan Kawah Rengganis. Tidak jauh dari pintu masuk ke Situ Patengang akan ada papan petunjuk ke Glamping Patengan. Itu tuh yang ada kapal pinisi dengan pemandangan langsung ke Situ Patengang sehingga saat kita berada di deknya, seolah olah kita sedang berlayar di Situ Patengang, kreatif ya idenya.
Tapi karena saya sudah pernah ke Situ Patengang, maka kami pun mengambil jalan kiri ke arah kawah Rengganis. Kalau kita ambil ke kanan, kita akan langsung menemukan pintu masuk ke Situ Patengan dan di situ ada bapak - bapak yang berjaga untuk memberi tiket masuk. Jalan menuju ke Kawah Rengganis benar-benar sepi (saat itu), hanya ada kami dan jalannya juga sudah bagus, di aspal. Tak lama kami menemukan papan petunjuk lagi yang memberi tahu arah kiri ke Kawah Rengganis. Saat kami sudah berbelok, disana ada sekumpulan orang, salah satu dari mereka memberitahu kami bahwa Kawah Rengganis sedang dalam perbaikan. Yaaaah, kecewa deh. Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun berputar arah dan kembali pulang. Hmm... sayang ya, udah lumayan jauh ternyata sedang ada perbaikan. Tapi ya sudahlah, kami akan kembali lagi, insha Allah suatu hari nanti.
Dalam perjalanan pulang, sebelum kantor desa (atau sesudah ya? saya lupa), kami melihat ada curug. Dari papan di pintu masuk, namanya Curug Tilu. Lokasinya terlihat dari jalan utama dan sepertinya enak untuk keluarga. Tapi kami tidak masuk karena kami sudah terlanjur kecewa, heee....
Setelah sampai di rumah, saya menelusuri tentang Curug Tilu Ciwidey, yang ternyata adalah curug buatan manusia. Pantesan lokasinya dekat dengan perkebunan teh, dan seingat saya, terakhir kali ke Situ Patengan, belum ada curug tersebut.
Jadi, yah begitulah akhir perjalanan kami hari ini, seperti judul dalam postingan kali ini, kami hanya mengukur jalan (yang tak terukur) antara Banjaran dan Rengganis, Ciwidey. Semoga bermanfaat untuk teman-teman dan semoga saat akan mengunjungi Kawah Rengganis, tempat tersebut sudah dibuka seperti biasanya, aamiin...