expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Oktober 2013

Nostalgia

Ketika kupandangi album foto itu seolah aku tersedot kembali ke masa lalu. Seakan baru kemarin aku bermanja-manja dengan kedua orang tuaku, merengek meminta dibelikan sesuatu. Kemudian aku beranjak dewasa. Mengerjakan tugas kuliah, bolos, dan berpetualang bersama sahabat-sahabatku. "Aaaah, entah dimana mereka sekarang. Tapi kuharap mereka selalu berbahagia.". Aku menghela nafas panjang, mencoba mengeluarkan sebongkah kerinduan yang menyesakkan dadaku.
Kupandangi foto pernikahanku, "Suamiku tersayang, kau masih tetap tampan hingga sekarang. Tak ada yang berubah darimu. Tapi apakah aku pun begitu di matamu?"
Kemudian satu persatu anak-anakku lahir ke dunia. Kupandangi wajah mereka ketika bayi. Ternyata waktu membuatku menua tanpa aku sadari.
"Sayang... ayo kita jenguk cucu-cucu kita. Mereka sudah menanti kedatangan kita", suara lembut suamiku menyentakku.
Aku tersenyum kemudian menggenggam erat tangannya, dia milikku selamanya.


Minggu, 27 Oktober 2013

Conversation

Please, come here.
I lonely here

I'm sorry, I can't
There is someone who waiting for me

Leave him
and come to me

I wish I could

If so...
Just leave me here

I'm sure I am
but you will find another one

Rindu

-Sabtu-
Kau tahu aku ini bodoh
Jangan menjelaskan terlalu banyak hal padaku
Aku tak mengerti
yang aku mengerti hanya satu
Bahwa Tuhan tidak pernah tidur
-Minggu-
Akhirnya kau pergi juga
Setelah semalaman kau jejali aku
dengan pengetahuanmu yang begitu luas
Andai saja pemahamanku mampu mengimbangimu
-Senin-
Celotehanmu masih terngiang di telingaku
seperti nyamuk yang kerap mengganggu tidurku
-Selasa-
Suaramu kali ini terdengar begitu samar
seiring mentari yang menatap nanar
-Rabu-
Loh, kok suaramu menghilang?
Aku pun bisa tidur dengan tenang
-Kamis-
Ah... kau itu menggangguku
Tapi aku begitu merindukanmu
Kuharap Jumat segera berlalu

Selamat Tinggal

Malam itu sangat tenang
Purnama bersinar terang
Angin pun tak henti menyapa
Aku menatapnya tak percaya
Wajahnya teduh
Seuntai senyuman membayang di bibirnya
Entahlah, aku tidak bisa mengartikannya
Memandangku tanpa kata
Dia berdiri tak jauh dariku
Tiba-tiba ia berkata
"Kau dengar itu?" ia menoleh ke belakang
menghadapi samudera luas terbentang
Aku menajamkan pendengaranku
Bingung
"Aku tak dengar apapun" jawabku
Ia berbalik, lagi-lagi hanya tersenyum
"Itu lah nyanyian bidadari surga"
Aku tersenyum simpul
Tak mengerti
"Selamat tinggal"
Aku masih bermain dengan kebingunganku
ketika aku melihatnya melompat
tanpa sebab, tanpa alasan
Hanya mengucapkan sebuah kalimat perpisahan
Seolah esok akan kembali berjumpa
Aku tersadar,
Ketika kudengar tubuhnya beradu dengan karang
dan semua kemudian diam

Sabtu, 28 Juli 2012

Resensi buku kesukaanku

Adakah yang pernah membaca atau setidaknya mendengar buku karya mbak Trie Utami, Setahun Penuh Cinta?
Well, saya pernah :D
Buku yang bertemakan tentang cinta tersebut memang benar-benar full of love for one year. Puisi-puisi yang ditulis dalam buku tersebut terkadang begitu romantis, ada pula yang terkesan sadis, menyindir, namun ada pula yang gamang.
Menurut saya, buku tersebut menggambarkan kisah seseorang yang tetap setia pada cintanya (disitu ditulis maharaja) meskipun sang cinta berpaling dan meninggalkannya. Bahkan hingga seseorang datang untuk menggantikannya, orang tersebut memilih untuk tetap setia pada sang cinta. Mmmmh... dramatis bukan?
Tapi diksi yang disajikan benar-benar apik, kata-katanya begitu sederhana, tapi jleeeeb langsung menikam dalam jiwa. Ditambah pola penulisan yang keren abis... ada yang bentuk lingkaran, bentuk spiral, bentuk hati. Sungguh sangat kreatif.
Nah inilah beberapa kutipan dari buku tersebut

Persembahan (hari 1)
Hidup untukku adalah persembahan
dan hidup untukku
artinya mempersembahkan sisa usiaku
pada siapa Tuhan pertautkan
Pada hatinya aku bersimpuh
Pada titahnya aku bersujud
Pada hidupnya aku berlabuh


Hari ke-22
Betapa indahnya luka ini
warnanya merah berlumur darah cinta,
yang mengalir deras
melewati robekan jiwa
yang tak pernah sembuh didera nestapa

Hari ke-25
Tak ada yang lebih baik dariku,
Sebab
Aku mencintaimu dikala nestapa
Jatuh cinta lagi kepadamu disaat lara
Dan tetap mencintaimu
dalam duka tiada tara

Hari ke-29
Jangan kau matikan aku dengan ketiadaan
yang pura-pura kau jadikan nyata
Dan jangan pernah hidupkan aku
dengan kenyataan yang tak pernah ada

Hari ke-35
Cinta untukmu adalah permainan kata-kata
sedangkan
Cinta untukku adalah persembahan jiwa



Hari ke-312
Kadang aku mencintaimu tapi benci
Dilain saat kau kubenci sekaligus kucintai
Yang jelas, aku membenci diriku sendiri
Mengapa engkau begitu kucintai?



Gimana? Asik asik kan puisinya?
Pasti penasaran :D
Beli sendiri aja yah bukunya, belinya yang asli jangan yang bajakan. Kasihan mbak Trie-nya nanti galau (becanda mbak ^_^v),heee

#Nggak bermaksud untuk mempromosikan, tapi emang ini buku kesukaan saya :D