expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Sabtu, 03 Februari 2018

Membuat Surat Penyataan Bebas NAPZA

Beberapa waktu yang lalu, untuk sebuah urusan yang mengharuskan saya membuat surat pernyataan bebas NAPZA. Awalnya, bingung karena tidak tahu harus kemana. Kemudian saya pun googling, dari beberapa sumber, disebutkan bahwa kita bisa membuat surat tersebut di kantor BNN, di RSUD, di Laboratorium, dan di Puskesmas. 
Kemudian, seorang teman menghubungi bahwa tidak bisa membuat surat tersebut di Laboratorium. Saya pun lalu pergi ke puskesmas terdekat untuk menanyakan sambil membuat surat pernyataan sehat. Petugas puskesmas lalu menjelaskan bahwa di puskesmas kecamatan dan kabupaten masih belum diberi izin untuk membuat surat pernyataan bebas napza. Saya harus pergi ke RSUD untuk membuat surat tersebut. 
Saya lalu membuat surat pernyataan sehat. Qadarullah, ketika saya sedang diperiksa tensi, petugas kesehatan yang memeriksa saya menanyakan untuk apa saya membuat surat pernyataan sehat. Saya pun lalu menjelaskan dengan singkat sambil mengatakan bahwa saya juga membutuhkan surat penyataan bebas napza. Ternyata si petugas kesehatan tersebut mengetahuinya, dia mengatakan bahwa saya bisa membuat surat pernyataan bebas napza di polres. 
Wah, subhanallah... bantuan datang tak terduga. Setelah mendapatkan surat pernyataan sehat, saya dan suami pun meluncur ke polres. 
Dan... setelah cek urin, saya pun mendapatkan surat pernyataan bebas napza. Alhamdulilah...

Membuat SKCK Baru

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat sebuah keputusan yang mengharuskan saya membuat surat SKCK. Dengan diantar suami tercinta, saya pun melajukan kendaraan ke polsek terdekat. Sudah pede karena merasa semua persyaratan sudah dibawa, ternyata saya kecele, hehe...
Untuk membuat SKCK diharuskan membawa surat pernyataan dari Kepala Desa, yang artinya kami harus meminta surat pengantar dari desa. Ke desalah kami, ternyata kami diminta untuk membawa surat pengantar dari pengurus RT/RW, haha...
Ya sudahlah, akhirnya suami pun pulang dan meminta surat pengantar dari RT/RW, setelah itu lalu diserahkan ke kantor desa untuk dibuatkan surat pengantar dari desa.
Setelah mendapatkan surat pengantar dari desa, kami pun kembali ke polsek.
Persyaratan yang harus dibawa untuk pengajuan SKCK:
1. Surat pengantar dari kantor desa
2. Fotokopi KTP (1 lembar)
3. Foto berwarna ukuran 4x6 (4 lembar)
4. Formulir pengajuan (disediakan di polsek, kita tinggal mengisi saja)
Semua syarat tersebut lalu dimasukkan ke dalam map (tergantung permintaan mapnya warna apa). Setelah itu, serahkan ke petugas, dan kita tinggal menunggu untuk dipanggil. Selesai sudah.

Curug Cibereum

Sudah lama saya ingin main ke curug Cibereum yang terletak di kaki gunung Gede - Pangrango tapi selalu saja ada halangannya. Akhirnya, penghujung tahun 2017 yang lalu alhamdulilah saya pun bisa main ke curug Cibereum dengan suami tercinta, haha...
Kalau mau dibilang nekat, ya memang nekat, karena cuaca saat itu sedang tidak menentu, kadang hujan dan kadang panas. Tapi kami tetap berangkat. Curug Cibereum berada di kawasan Cibodas, Cianjur. Jadi kami pun melajukan kendaraan ke sana. 
Tiba di pintu masuk Cibodas, ada beberapa orang petugas retribusi, kami mengatakan bahwa kami akan menuju ke curug Cibereum, si petugas langsung mengarahkan kami ke parkiran. Oiya, waktu itu kami bayar retribusinya sekitar Rp. 10.000,- (2 orang + motor). Kami melewati pasar Cibodas ketika seorang petugas parkir menghadang dan meminta kami parkir. Kami pun lantas parkir, helm di simpan motor. Suami memasang gembok di motor, semoga aman. Kemudian kami berjalan menuju pintu utama Kebun Raya Cibodas. 
Setelah tiba di depan pintu utama kebun raya Cibodas, kami berbelok ke kanan. Di situ ada papan petunjuk, kebun raya Cibodas, lapangan golf, dan curug Cibereum. Kami berjalan, agak menanjak di sini jalanannya. Lalu jalanan pun terbagi dua, yang agak besar menuju ke lapangan golf sedangkan yang kecil menuju ke curug Cibereum. Nah, foto di bawah ini adalah ujung dari jalan kecil tersebut. Disitu ada papan petunjuk jalan, mau kemana kita (kaya Dora the Explorer).
 Setelah papan petunjuk di atas, kita juga bisa melihat seperti di foto berikut.
Oiya, Curug Cibereum terletak di jalur pendakian gunung Gede - Pangrango, jadi kita tidak akan heran bila berpapasan dengan para pendaki dengan tas yang super gede. Ya iyalah, namanya juga mau berkemah, masa cuma bawa tas tangan aja, haha...
Setelah tanda tersebut, lalu kita akan menaiki tangga yang tersusun dari bebatuan yang tidak rata hingga ke tempat tiket masuk sekaligus pendaftaran bagi para pendaki. Pemanasan, haha...
Nah, itu penampakan karcisnya. Waktu itu, saya membayar Rp. 18.500/orang. Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan ke atas. Ternyata oh ternyata, perjalanan ke curug Cibereum tidak semudah yang saya bayangkan. Jalanannya yang menanjak dan berupa susunan bebatuan yang tidak rata itu yang membuat saya kelelahan.
Jalanan ke Curug Cibereum
Saya meminta suami berhenti beberapa kali, perjalanan dari tempat membeli karcis masuk hingga ke curug memakan waktu kurang lebih satu jam. Kanan dan kiri kami berupa pepohonan dan terkadang ada monyet-monyet yang bergelantungan.
Ada beberapa papan petunjuk di beberapa tempat yang menyebutkan bahwa tempat tersebut sering disinggahi oleh macan tutul. Waaah serius, membaca papan tersebut saya jadi tidak ingin berlama-lama di tempat tersebut. Apalagi saya hanya berdua dengan suami. 
Kalau sudah tiba di jalan yang seperti ini, artinya sudah setengah perjalanan
Tapi, setelah kami tiba di atas, subhanallah, terbayar sudah perjalanan berangkatnya. Air curug Cibereum yang dingin bikin betah. Kami berangkat dari tempat pembelian karcis sekitar jam 11 dan tiba di curug jam 12-an. 
Oiya, curugnya tidak hanya satu, tapi dua. Sehingga ketika curugnya yang satunya penuh dengan orang, kita bisa bermain di curug yang satunya lagi. Curug yang satu berada di belakang kamar mandi, sedangkan curug utamanya berada di depan, ketika kita tiba kita akan langsung terkena cipratan airnya.
Kami bermain air dan berfoto-foto sekitar sejam kemudian turun lagi karena memang saat itu sudah mulai gerimis romantis, hihihi...
Perjalanan turun juga tidak kalah melelahkan hehe... tapi karena ingin segera sampai rumah, yaa kami tetap memaksakan. Sekitar jam 2 kami pun sudah tiba di tempat parkir dan bersiap untuk pulang. 
Bagi para pendaki pemula seperti saya, saran saya adalah bawa air minum agak banyak. Atau bawa uang tunai agak banyak karena sebenarnya ada pedagang hingga ke curug. Kemudian bawa pakaian ganti kalau mau main air hingga basah. Kemudian, ini sih hanya menurut pendapat saya, jangan bawa anak-anak yang masih minta gendong. Kenapa? Karena itu (tampaknya) melelahkan bung! 
Beberapa kali saya berpapasan dan melewati pasangan-pasangan yang menggendong bayi hingga anak usia dibawah lima tahun, kasian saya melihatnya. Bergantian mereka menggendong si anak, belum lagi barang bawaan mereka ditambah jalanan yang menanjak belum lagi kalau si anak rewel. Ah, yang pasti (menurut saya), ini bukanlah wisata yang ramah anak-anak. Kecuali anak diatas usia 8 tahun.
Oiya, kami juga melewati Danau Biru, tapi saat kami melewati danau tersebut, airnya sedang berwarna coklat, tidak berwarna biru. Jadi kami tidak memfotonya hehe...
Sekian cerita saya, selebihnya silakan nikmati foto saja hehe...
Kalau sudah sampai jembatan ini, artinya Curug sudah semakin dekat
 

Papan petunjuk yang berada di tempat pembelian karcis

Kamis, 21 September 2017

Ngukur Jalan

Hari ini kan tanggal merah, sudah dari semalam saya merayu suami agar kami bisa pergi jalan-jalan. Akhirnya suami pun luluh dan kami memutuskan pergi.
Sudah lama saya ingin pergi ke kawah Rengganis di desa Rancabali, Ciwidey. Kami pun lalu menuju ke sana. Kami berangkat sekitar pukul setengah sepuluh pagi, sempat mampir dulu ke agen JNE untuk mengirim paket, (alhamdulilahnya JNE masih buka di hari libur :D) kami pun langsung meluncur ke arah Ciwidey.
Karena kami dari Banjaran, jadi lumayan dekat lah ya ke Ciwidey. Dari arah Banjaran lurus hingga pertigaan yang ada plang desa (saya lupa nama desanay lol), dari pertigaan tersebut lalu belok kiri. Kemudian keluar dari jalan tersebut, lalu belok kanan. Setelah itu, kita tinggal lurus saja mengikuti jalan hingga sampai ke tempat yang kita akan tuju.
Kami sempat isi bensin sebelum pasar Ciwidey, setelah itu kami kembali ke jalanan. Situasi saat kami pergi ke sana ramai lancar, ada rombongan dalam beberapa bus besar dan kecil, mobil pribadi dan pastinya motor yang juga akan pergi ke Ciwidey.
Setelah melewati pasar Ciwidey, tepatnya di daerah Alam Endah, kita sudah disuguhi kebun-kebun strawberry. Banyak tulisan "Petik sendiri" diantara tanaman tersebut. Maksudnya kita bebas memetik sendiri strawberry tapi tentu saja kita harus membayar untuk strawberry yang sudah kita petik, hehe...
Anak-anak pasti sangat suka. Sepanjang jalan juga banyak kami temui penginapan-penginapan dan juga hotel untuk para wisatawan yang ingin menginap. Juga banyak tempat makan-tempat makan yang pasti menyuguhkan pemandangan yang indah. Diantaranya Sindang Reret, Rumah Nenek, Bale Bambu, Ciwidey Valley Resort (yang kami lihat tidak hanya menyediakan penginapan tapi juga kolam renang dan rumah makan), dan ada pula taman kelinci.
Setelah melewati Ciwidey valley resort, kami mulai melewati perkebunan teh Ciwalini. Nah dari situ, mulai berjajar lagi tempat-tempat wisata seperti pintu masuk ke Kawah Putih yang tepat di depannya ada pemandian air panas Cimanggu, Cimanggu resort, Barusen Hill, Green hill park, Kampung pa'go, kolam air panas Ciwalini, Ranca Upas. Setelah melewati kolam Ciwalini, kita akan kembali disuguhi perkebunan teh yang terhampar luas. Hingga masuk ke perkebunan teh Rancabali.
Nah, dari sini kita akan menemukan papan petunjuk jalan antara Situ Patengang dan Kawah Rengganis. Tidak jauh dari pintu masuk ke Situ Patengang akan ada papan petunjuk ke Glamping Patengan. Itu tuh yang ada kapal pinisi dengan pemandangan langsung ke Situ Patengang sehingga saat kita berada di deknya, seolah olah kita sedang berlayar di Situ Patengang, kreatif ya idenya.
Tapi karena saya sudah pernah ke Situ Patengang, maka kami pun mengambil jalan kiri ke arah kawah Rengganis. Kalau kita ambil ke kanan, kita akan langsung menemukan pintu masuk ke Situ Patengan dan di situ ada bapak - bapak yang berjaga untuk memberi tiket masuk. Jalan menuju ke Kawah Rengganis benar-benar sepi (saat itu), hanya ada kami dan jalannya juga sudah bagus, di aspal. Tak lama kami menemukan papan petunjuk lagi yang memberi tahu arah kiri ke Kawah Rengganis. Saat kami sudah berbelok, disana ada sekumpulan orang, salah satu dari mereka memberitahu kami bahwa Kawah Rengganis sedang dalam perbaikan. Yaaaah, kecewa deh. Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun berputar arah dan kembali pulang. Hmm... sayang ya, udah lumayan jauh ternyata sedang ada perbaikan. Tapi ya sudahlah, kami akan kembali lagi, insha Allah suatu hari nanti.
Dalam perjalanan pulang, sebelum kantor desa (atau sesudah ya? saya lupa), kami melihat ada curug. Dari papan di pintu masuk, namanya Curug Tilu. Lokasinya terlihat dari jalan utama dan sepertinya enak untuk keluarga. Tapi kami tidak masuk karena kami sudah terlanjur kecewa, heee....
Setelah sampai di rumah, saya menelusuri tentang Curug Tilu Ciwidey, yang ternyata adalah curug buatan manusia. Pantesan lokasinya dekat dengan perkebunan teh, dan seingat saya, terakhir kali ke Situ Patengan, belum ada curug tersebut.
Jadi, yah begitulah akhir perjalanan kami hari ini, seperti judul dalam postingan kali ini, kami hanya mengukur jalan (yang tak terukur) antara Banjaran dan Rengganis, Ciwidey. Semoga bermanfaat untuk teman-teman dan semoga saat akan mengunjungi Kawah Rengganis, tempat tersebut sudah dibuka seperti biasanya, aamiin...

Selasa, 18 Juli 2017

Cerita Daftar Ulang Santri Lama di PMD Gontor Putri

Awal tahun ajaran baru ini, saya memiliki pengalaman baru. Alhamdulillah adik saya naik kelas di PMD Gontor Putri 1, tetap di GP 1 hanya beda asrama dan kelas, Alhamdulilah...
Oiya, Gontor sendiri beda ya liburannya dengan sekolah-sekolah biasa. Pengalaman adik saya semester lalu, ketika di sekolah tempat saya mengajar sedang persiapan untuk ujian kenaikan kelas, di Gontor sudah mulai libur. Adik saya libur selama 50 hari, 4 hari terpotong untuk perjalanan  pulang pergi.
Adik saya masuk pada tanggal 10 Syawal atau sekitar tanggal 4 Juli 2017. Saya diminta untuk mengantar adik saya daftar ulang, jadi dia tidak ikut berangkat dengan konsulat. Awalnya, saya kira bila saya berangkat duluan kami bisa duluan daftar ulang dan masuk pondok, jadi tidak berdesak-desakan dengan santri lainnya. Yah, bayangkan saja, angkatan yang sekelas dengan adik saya ada sekitarnya 500 orang, belum angkatan yang lainnya, wiiih pastinya padat banget. Akhirnya, kami berangkat tanggal 30 Juni. Alhamdulillah perjalanan lancar walau ada macetnya di beberapa titik, berhubung masih dalam waktu arus balik lebaran :D
Kami jalan siang, berangkat jam 4 pagi nyampe Gontor jam 23.30. Saya turun untuk bertanya pada ukhti yang berjaga, ternyata oh ternyata, daftar ulang belum bisa dilakukan sekarang. Serentak tanggal 4 Syawal katanya. Daaan, otomatis adik saya pun belum boleh masuk asrama. Saya melihat sekeliling, wuiiiih, sudah pada penuh. Bapenta, gazebo, mesjid, dan penginapan di dalam sudah penuh, bahkan tidak banyak orang tua yang membawa tenda dan tidur di mobil. Saya kembali ke mobil, lalu saya mencoba mencari penginapan atau rumah warga di depan pondok, hasilnya, penuh semua. Baiklah... Oiya, selain daftar ulang santri lama, penuhnya pondok juga karena adanya penerimaan santri baru. Dan waktu itu, masih dibuka pendaftarannya. Jadi, orang tua santri baru masih bisa banyak yang datang untuk mendaftar.
Okelah, akhirnya saya lanjutkan perjalanan ke rumah Mbah di Madiun. Kami akan menginap hingga tanggal 4 Juli, awal rencana.
Skip skip skip
Tanggal 2 Juli siang, saya diberitahu oleh mamanya teman adik saya yang udah nginep di pondok bahwa daftar ulang sudah dibuka. Akhirnya saya dan adik saya berangkat ke Pondok tanggal 3 Juli pagi. Sampai disana, pendaftaran belum dimulai, saya dan adik saya mencoba mencari penginapan, kami tiga kali bolak balik, dan semua penginapan penuh huhuhu...
Alhamdulillah, mamanya teman adik saya baik, beliau mau mengambilkan nomor antrian untuk saya. Jadi gini ya, sistemnya, di pondok itu kan ada dua gerbang, yang satu gerbangnya besar dan ada bangunan di depannya sedangkan gerbang yang satu lagi dekat mesjid dan ada lapangan dengan gazebo baru ada bangunan. Nah, untuk membayar administrasi kita (wali santri atau santri) masuknya lewat gerbang yang dekat masjid. Dari sana, kantor administrasinya dekat, disana kita membayar uang pondok dll. Kemudian, santri dan barang-barangnya masuk lewat gerbang utama yang besar, nanti disana ada ukhti yang mendata. Setelah masuk, nanti barang-barang santri akan diperiksa. Adik saya harus merelakan dua buah kaosnya yang disita oleh ukhti karena dianggap tidak sesuai dengan peraturan. Naaaah, setelah diperiksa, barang-barangnya kemudian dibawa ke tengah lapangan yang dijaga oleh ukhti. Kalau adik saya mau masuk ke asrama, barang-barangnya tidak perlu disimpan disana. Tapi adik saya belum mau masuk kamar, katanya masih sendirian karena teman-temannya juga masih diluar. Okelah, saya mengalah.
Ketika berangkat ke Gontor, saya diantar adik kedua saya, tapi karena dia harus masuk kerja, jadi saya ditinggal di Madiun. Dari Madiun, saya menyewa mobil untuk ke pondok diantar paman dan bibi. Sebelum paman dan bibi pulang, paman membantu mencarikan penginapan untuk saya bermalam. FYI, saya dapat tiket pulang ke Bandung itu tanggal 5 Juli, otomatis saya masih harus menginap 2 malam lagi di Mantingan. Alhamdulillah, saya dapat penginapan. Bukan penginapan sih sebenernya, hanya rumah warga yang berbaik hati ruang tamunya dipakai untuk menginap. Saya menginap disana semalam, tapi jaraknya menurut saya lumayan jauh dari pondok. Apalagi saya masih harus bolak-balik keluar untuk membelikan perlengkapan adik saya.
Oiya, untuk daftar ulangnya sendiri, per hari mereka membuka 1000 antrian, dari tanggal 2 sore hingga tanggal 4 Juli, kebayangkan banyaknya?
Dan, pada tanggal 4 Juli jam 23.59 semua santri harus masuk ke kamarnya masing-masing. Jadi adik saya masih bisa tidur dengan saya semalam. Tanggal 4 pagi, saya minta adik saya untuk masuk ke kamarnya, beres-beres gitu biar nanti malam dia bisa tidur dengan tenang, dianya mau. Alhamdulillah, saya juga dapat tempat di bapenta, jadilah saya juga pindah dari rumah warga ke bapenta, hihihi...
Setelah saya pindah di bapenta, saya jadi lebih tenang. Karena tidak perlu bolak-balik dan jalan jauh hehe...
Adik saya beres-beres di kamarnya, sedangkan saya tidur-tiduran menunggu dia di bapenta. Ketika dia datang, dia langsung cerita, lemarinya lupa tidak ia beri kapur barus, jadilah banyak rayap di lemarinya dan beberapa barangnya hilang termasuk kasurnya. Jadilah, kami belanja kasur dan beberapa perlengkapan lagi.
Begitulah cerita saya di PMD Gontor Putri kali ini. Semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman yang ingin memasukkan anaknya atau adiknya ke sana. Bila ingin bertanya-tanya lagi, langsung aja add FB saya ya. Jangan main ngirim inbox, karena seringnya tidak terbaca hehe...
Terima kasih sudah membaca tulisan saya yang panjang ini ^_^