expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Selasa, 02 Juli 2013

Gunung Padang

"Karena malam mempunyai kekuatan tersendiri untuk membangkitkan harapan yang tak terwujudkan dan kenangan yang terlupakan

Xixixi... itulah sebaris kalimat yang tiba-tiba terbesit dalam pikiran saya malam ini. Malam ini saya ingin flashback ke masa lalu. Bercerita tentang secuil aktivitas yang pernah saya lakukan ketika masa putih abu-abu.
Dulu, ketika saya kelas dua SMA, saya diajak seorang sahabat dekat untuk pergi ke Gunung Padang. Pada masa itu, Gunung Padang itu masih sepi dan jarang diketahui oleh orang banyak. Bahkan salah seorang teman saya yang asli Cianjur sama sekali tidak tahu dimana letak Gunung Padang itu sendiri. Kami bermodal nekat, karena waktu itu saya pergi hanya berenam dan wanita semua. Kami tidak tahu jalan, kami hanya bermodalkan keinginan dan keberanian untuk bertanya agar kami tidak tersesat. Mulanya kami berempat berjanji bertemu di daerah Pasir Hayam, Cianjur (sekarang terminal Pasir Hayam). Dari sana, kami naik angkot -saya lupa lagi- hingga tiba di stasiun terakhir. Setelah itu kami turun. Saya ingat sekali, pada waktu itu kami bingung, harus naik apa lagi, karena tidak ada angkutan umum ataupun ojek. Akhirnya kami pun berjalan kaki. Setelah hampir satu jam kami berjalan kaki, kami masih belum menemukan tanda apapun tentang Gunung Padang, sempat kami memutuskan untuk pulang lagi hingga kemudian, sebuah mobil pick up meng-klaksoni kami. Ternyata, dua orang teman kami sudah naik di mobil tersebut. Kami merasa sangat senang dan juga kembali bersemangat. Akhirnya kami pun menumpang pada mobil tersebut. Ternyata, Gunung Padang itu sendiri masih sangat jauh. Kami sangat bersyukur bertemu supir mobil pick up tersebut di waktu yang tepat, karena bila kami masih saja nekat untuk berjalan kaki, mungkin kami akan berjalan sepanjang hari. 
Mobil itu tidak mengantarkan kami ke Gunung Padang, tapi setidaknya, kami hanya tinggal berjalan kaki sejauh 7km lagi untuk tiba di Gunung Padang. Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 7 km.
Bukan perjalanan yang mudah, tentu saja. jalanan pada waktu itu masih berupa batu-batu kasar dan tanah juga kerikil dan tentu saja naik turun serta berliku. Tapi, percayalah, pemandangan pun tak kalah indahnya. hutan bambu, perkebunan teh, itu lah yang kami lihat. Hingga akhirnya kami tiba di kaki Gunung Padang. Kami beristirahat lagi untuk yang kesekian kalinya di sebuah pondok bambu sederhana. Ada sebuah aliran air, waktu itu kami bertemu dengan kuncen Gunung Padang, dia bilang air tersebut masih bersih sehingga kami bisa langsung meminumnya tanpa memasaknya terlebih dahulu. Benar-benar sangat segar airnya.
Kami pun lalu mulai menaiki tangga Gunung Padang, yang katanya seribu anak tangga, entah benar atau tidak, tapi yang pasti tangga tersebut sangat curam. Ketinggian anak tangga yang tidak sama juga lebarnya yang berbeda-beda otomatis membuat kami sangat lelah walaupun baru menaiki beberapa anak tangga saja. Tapi itulah sense -nya hehe...
Kami pun tiba di puncak Gunung Padang, sejauh mata memandang yang tampak hanyalah bebatuan yang berserakan tidak karuan. Karena waktu itu kami masih pada cupu, tidak ada seorang pun dari kami yang membawa kamera ataupun memiliki handphone dengan kamera. Jadi, semua itu hanya tersimpan dalam benak kami masing-masing.
Kami duduk-duduk di sebuah batu untuk melepas lelah, bodohnya kami, kami pun tidak membawa makanan untuk kami makan disana, hahaha....
Ketika duduk, iseng-iseng kami memukul salah satu batu, dan ternyata batu-batu tersebut bisa berbunyi. Itulah batu yang sekarang disebut batu degungan.
Kami tidak lama berada di Gunung Padang, setelah setengah jam kami berada di sana kami memutuskan untuk pulang. Well, kami kembali bertanya pada si kuncen Gunung Padang, sambil mengisi ulang air minum kami dari air yang ada di sana tadi, hehe...
Ternyata, di tempat kami berhenti naik mobil pick up tadi ada sebuah stasiun kereta api. Sehingga kami bisa pulang tanpa harus berjalan kaki lagi, (walaupun untuk ke stasiun kami tetap harus berjalan kaki sejauh 7km, ahahaha). Dengan penuh semangat kami berjalan menuju stasiun, tiba di stasiun kami langsung membeli tiket kereta api (waktu itu harganya cuma Rp. 1500,-). Kereta tiba pukul 15.00 menuju Cianjur. Kami pun tiba di Cianjur sekitar pukul 17.00. Sangat gembira walaupun sangat lelah karena berjalan kaki sejauh 14 km lebih, hehehe.... dan juga kelaparan. 
Hingga tulisan ini dimuat, tidak ada seorang orang tua pun yang tahu bahwa kami berenam pernah pergi ke Gunung Padang :)
Sebuah kenakalan yang tidak boleh dilakukan dan ditiru yaaaaa....
Ini kenangan, apa kenanganmu? :)

Selasa, 18 Juni 2013

Gunung Puntang

Sekarang, tepatnya setelah menikah, saya ikut suami tinggal di daerah Gunung Puntang.
Haaaa... ada yang pernah mendengar nama Gunung Puntang? Atau malah ada yang pernah berkunjung ke sana?
Gunung Puntang adalah sebuah kawasan di daerah Bandung Selatan. Dari Bandung, kita mengambil jalan Moh. Toha dan lurus terus hingga berada di pertigaan Dayeh Kolot. Kalo kita tetap lurus, kita akan masuk ke jalan Buah Batu. Jadi kita harus berbelok ke kanan. Nah setelah melewati jembatan sungai Citarum, ada pos satpam di pertigaan. Bila kita mengambil arah kiri, kita akan pergi ke Ciparay dan nembus ke Majalaya. Jadi, kita mengambil arah kanan lagi. Dari sana kita lurus terus, melewati Banjaran ke arah Pangalengan. Setelah melewati pasar Banjaran, jalan akan mulai berlika-liku. pemandangan yang indah pun akan dapat kita nikmati. Ketika kita menemukan pertigaan dengan patung singa / macan, kita ambil arah kiri. Kalo lurus, kita akan ke Pangalengan. Dari sana, kita akan segera tiba di Gunung Puntang.
Ketika masa kuliah dulu, pernah sekali saya berkemah di gunung Puntang. Udara sangat dingin di sana. Sinyal, yaaah dikit-dikit ada lah, hehe...
Ketika saya berkemah dulu, saya sempat mengobrol dengan penduduk setempat, ternyata, Gunung Puntang dulunya ditempati oleh orang-orang Belanda. Bahkan, ada stasiun pemancar radio terkuat se-Asia. Karena stasiun tersebut menghubungkan orang Belanda yang berada di Indonesia dengan orang Belanda yang berada di Belanda. Wuaaaah keren yaa?!
Stasiun pemancar radio tersebut di sebut dengan radio Malabar. Sayangnya, stasiun radio tersebut terbakar pada saat kejadian "Bandung Lautan Api" (sumbernya menurut penduduk lokal yah), sehingga kini yang tersisa hanyalah puing-puing bangunannya saja.
Karena ada stasiun pemancar, tentu saja, dulu Gunung Puntang ramai oleh penduduk orang Belanda. Ada satu kolam yang unik ketika berada di sana, yaitu kolam cinta. Kenapa disebut kolam cinta? Karena kolam tersebut memang berbentuk hati (cinta), dan ceritanya dulu orang-orang Belanda memadu kasih (alaaaaah) di tepi kolam tersebut. Dulu, kolam cinta airnya jernih dan bening, sekarang kolam cinta hanya diisi air bila ada peserta kemah yang membutuhkan untuk menggunakannya, selebihnya diisi oleh air hujan.
Selain itu, di Gunung Puntang juga terdapat sungai, airnya, jangan ditanya, super dingin dan super jernih. Kemudian, ada Gua Belanda, saya sendiri belum pernah masuk ke gua Belanda yang di Gunung Puntang (pernah masuk gua Belanda yang di Dago Pakar).
Selain itu, di Gunung Puntang juga ada hutan pinus. Saya dapat melihat hutan pinus dari ladang ayah mertua saya, yang memang berbatasan langsung dengan hutan pinus. Tempat ini juga sering dijadikan sebagai ajang motor track. Itu tuh yang balapan motor di tempat yang basah-basah, becek, dan ga asik, hehe...
Satu hal yang tidak mungkin terlupa di Gunung Puntang, yaitu air terjun / Curug Siliwangi.
Katanya sih, indah banget itu curug. Saya sendiri (lagi-lagi) belum pernah main ke sana. Karena menurut ayah mertua saya, letaknya sangat jauh dengan medan yang lumayan sulit.
Bila malam hari tiba dan cuaca sangat cerah, kita akan bisa menyaksikan lautan lampu dari arah Lembang, Bandung, dan Soreang. Bila pagi hari cerah, kita akan bisa melihat gunung Tangkuban Perahu dari kejauhan.
Oke, begitulah sekelumit cerita saya mengenai Gunung Puntang.
Biarlah foto yang berbicara lebih lanjut :)






 Sawah








Ladang jagung













Terlihatkah gunung Tangkuban Perahu?











 Senja di atas langit Gunung Halu, Ciwidey





Bahan Kerajinan Tangan



Haloooooo....
Teman-teman yang sangat suka membuat kerajinan tangan terlebih dari kain flanel, saya ingin mempromosikan jualan saya nih. Berupa kain flanel meteran


Peniti


Pin mangkok


Selain itu juga ada gantungan kunci, gantungan handphone, lem batang isi, serta dakron.
Bila berminat silakan add akun facebook saya di sini.
In sha Allah saya serius dan tidak menipu :)


































Hamil Tidak Yaaaa

Semua orang yang sudah menikah tentu saja sangat mengharapkan hadirnya si buah hati. Termasuk saya, hohoho...
Ada wanita yang begitu menikah seminggu kemudian langsung mengalami gejala-gejala kehamilan. Apa saja gejala-gejala kehamilan itu?
Menurut beberapa blog kedokteran dan forum ibu-ibu hamil dan menyusui, gejala-gejala kehamilan yang paling umum adalah:
  1. Mengalami morning sickness, yaitu mual-mual hingga muntah di pagi hari. Walaupun terkadang, ada juga wanita yang mengalami hal tersebut di siang hari, sore hari, malam hari, bahkan sepanjang hari. Morning sickness ini sendiri terjadi pada trisemester pertama. Teman saya, mengalami morning sickness yang cukup berat sehingga ia harus mengajukan cuti selama kurang lebih tiga minggu. Tapi ada juga yang tidak mengalami morning sickness, seperti kakak ipar saya.
  2. Mengidam.Yuppss.. tahu dunk dengan apa yang disebut mengidam? Hihihi... yaitu perasaan yang sangat amat menginginkan sesuatu, misalnya pengen makan bubur ayam tengah malam, atau pengen buah mangga padahal lagi musim rambutan, nah lo? Tenang tenang, biar para suami saja yang bertanggung jawab, hehehe... Mitosnya sih, kalau keinginan tersebut tidak dipenuhi, ketika bayinya lahir, si bayi akan selalu mengeluarkan ludah (bahasa Jawa: ngeces) selama beberapa waktu. Itu kan mitos, kalau menurut kedokteran sendiri, ada beberapa dokter yang berpendapat bahwa sebenarnya mengidam itu hanyalah keinginan sang ibu untuk memakan makanan yang aneh-aneh dan juga keinginan ibu untuk manja pada suaminya. Karena memang, ketika hamil hormon pada tubuh wanita sedang tinggi-tingginya (saya tidak tahu istilahnya). Sedangkan menurut ilmu psikologi, beberapa ahli psikologi menyatakan ketika seorang wanita sedang hamil, sebenarnya dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Sehingga perasaannya menjadi sangat sensitif dan menyebabkan emosinya (mood) menjadi tidak stabil.
  3. Mengalami telat haid. Tentu saja, ini adalah gejala yang sangat pasti yang membuktikan bahwa seorang wanita sedang hamil. Biasanya seorang wanita memiliki kalender haid, jika mengalami telat, bisa langsung dicek dengan menggunakan alat tes kehamilan yang disebut testpack. Atau kalau nggak mau menunggu hingga telat haid, bisa juga mengecek kehamilan minimal seminggu sesudah berhubungan. 

Nah, itu adalah tiga gejala umum kehamilan. Gejala-gejala kehamilan tersebut bisa bervariasi dirasakan seorang wanita.
Beberapa orang teman saya menyarankan saya untuk rutin minum susu kehamilan dan menyimpulkan bahwa mungkin saya tidak terlalu subur karena kegemukan. Sungguh perkataan mereka sangat jleeebbb sekali :(
Kemudian, saya berdiskusi dengan beberapa orang teman dari bidang kesehatan, mereka bilang, kegemukan nggak selalu menjadi tanda bahwa seorang wanita kurang subur. Kemudian mereka juga bilang, saya nggak mesti minum susu kehamilan karena sebenarnya minum susu apapun juga bisa dan berpengaruh. Hanya saja, susu khusus kehamilan tersebut sudah dimodifikasi sehingga susu tersebut banyak mengandung asam folat yang banyak dibutuhkan oleh wanita yang sedang hamil. Mendengar penjelasan mereka, hati saya langsung nyeeeessss...
Kemudian, saya banyak membaca artikel-artikel islami dan ada sebuah artikel yang benar-benar membuka mata saya. Isi artikel itu kurang lebih seperti ini: "Menikah dan punya anak bukanlah sebuah perlombaan. Karena Allah telah mengatur semua hal itu."
Subanallah, kalimatnya pendek, tapi langsung ke hati :)
Jadi, kehamilan itu adalah mutlak kuasa Allah. Kita sebagai suami istri mungkin bisa selalu berusaha untuk membuat anak. Tapi, Allah-lah yang memutuskan, apakah anak itu jadi atau tidak.
Meskipun memang perih ketika banyak orang yang berkata, "Udah hamil belum?", "Kok belum hamil? Jangan-jangan nggak tokcer tuh." tapi kita harus selalu tegar dan tersenyum, jangan lupa ber-istigfar ya. Jawablah pertanyaan-pertanyaan nyinyir tersebut dengan baik, seperti, "In sha Allah, bila Allah berkehendak pasti secepatnya hamil :)", atau "In sha Allah, minta doanya yah, mudah-mudahan doa kamu di ijabah ma Allah :)".
Jangan berkata-kata yang kasar, toh yang bertanya mungkin belum pernah merasakan bagaimana rasanya ditanya seperti itu :). Doakan juga agar yang bertanya agar tidak mengalami perih yang kita rasakan :)
Nah, itu lah sekelumit tentang kehamilan. Buat yang belum dikaruniai keturunan, mari kita sama-sama berdoa dan berusaha. Ust. Yusuf Mansur dalam twitter-nya berkata, banyak-banyaklah bersedekah, membaca Al-Quran, shalat awal waktu, bersholawat dan juga berdzikir. Salah satu doa yang dipanjatkan oleh nabi Zakaria a.s: “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku anak yang shaleh.” (QS. As-Shafat: 100). Aamiin

Senin, 17 Juni 2013

Situ Patenggang

Xixixi... Siapa yang sudah pernah ke Situ Patenggang??
Saya sudah,hehehe
Bangga banget yaaaa?
Iyalah, secara saya belum pernah pergi ke sana, hehe
Alhamdulilah, ketika libur panjang kemarin, saya dan suami saya bisa pergi ke sana. Sebenarnya ga niat-niat banget mau ke Situ Patenggang, tadinya kami hanya ingin berjalan-jalan ke Ciwidey saja.
Kami berangkat sekitar jam 9-an dari Gunung Puntang, Banjaran. Perjalanan sekitar dua jam, akhirnya kami tiba di Ciwidey. Kami terus saja melajukan motor hingga melewati Bumi Perkemahan Ranca Upas. Wow, keren sekarang gerbang masuk Bumi Perkemahan Ranca Upas. Terakhir saya kesana waktu kuliah dan sempat berkemah selama tiga hari dua malam di sana.
OK, karena kami tidak berniat untuk berkemah, kami tetap melanjutkan perjalanan. Hingga kami tiba di depan gerbang Kawah Putih. Ragu-ragu kami akan masuk ke sana, karena kami emang ga bawa uang terlalu banyak, hehe...
Akhirnya kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan melewati pemandian air panas Ciwalini. Dari jalanan kami sudah bisa melihat area pemandian air panas tersebut yang nampaknya seperti kolam renang yang dilengkapi waterboom gitu. OK, kami pun tidak berniat untuk berenang karena tidak membawa baju ganti, jadi kami lagi-lagi melanjutkan perjalanan. Terus menerus hingga kami berhadapan dengan gerbang masuk Situ Patenggang. Sepanjang perjalanan dari gerbang masuk kawah putih hingga Situ Patenggang terhampar perkebunan teh. Sehingga udaranya cukup dingin dan pastinya bebas polusi, Indah sekali... ga kalah sama di Puncak, Bogor.
Kami pun lalu masuk ke Situ Patenggang, tak berapa jauh dari gerbang masuk, kami sudah bisa melihat beningnya air Situ Patenggang.


Ini adalah perkebunan teh yang berada di pulau di tengah Situ Patengang. Kata orang sih ini namanya pulau Cinta. Menurut saya bentuknya ga seperti bentuk cinta. Hmm... mungkin karena mitos yang menyebutkan bahwa ada sepasang kekasih yang dulunya bertemu di pulau tersebut sehingga pulau tersebut terkenal dengan sebutan pulau Cinta, Mungkin... hehe
 Xixixi... di samping adalah foto suami saya dengan latar belakang air Situ Patenggang. Masih di pulau Cinta.
Situ Patenggang, menurut batu prasasti yang akan kita jumpai ketika kita sudah tiba di sana, merupakan sebuah danau. Berasal dari kata "Patengang" dalam bahasa Sunda yang artinya saling mencari. Katanya, dulu sepasang kekasih dipisahkan. Mereka pun saling mencari satu sama lain hingga tiba di Situ Patenggang. Mereka akhirnya bertemu di tengah-tengah Situ Patenggang, seperti yang sebutkan di atas tadi, yakni di pulau Cinta.
Di pulau Cinta pun kita akan menemukan batu prasasti yang memuat sejarah tersebut. Entah benar atau tidaknya, tapi Situ Patenggang memang tempat yang sangat indah. :)
 Agar dapat pergi ke Pulau Cinta, kita harus menaiki sebuah perahu. Banyak perahu kok di sana. Bahkan ketika memasuki gerbang Situ Patenggang, para tukang perahu sudah menawari kita untuk menaiki perahu mereka. Harga yang ditawarkan cukup bervariasi, tergantung bagaimana kita memilihnya. Bahkan semakin ke ujung, harga yang ditawarkan bisa sangat murah, yakni lima ribu per orangnya.
Ketika kita sudah memutuskan untuk naik perahu, udaranya begitu tenang. Angin berhembus sejuk, indah sekali pokoknya. Tukang perahu akan membawa kita ke Pulau Cinta dan membiarkan kita mengambil foto atau makan - makan sepuas kita. Bila kita ingin kembali lagi ke awal, kita hanya tinggal pergi ke perahu yang kita naiki tadi dan si tukang perahu akan membawa kita kembali.
Ketika liburan, kawasan Situ Patenggang sangat ramai dikunjungi para wisatawan. Ada juga rombongan-rombongan dari luar kota Bandung. Tiket masuk ke Situ Patenggang harganya lima ribu per orang, bila naik motor, kita hanya perlu membayar lima belas ribu rupiah dan parkir seharga dua ribu rupiah.