expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 03 Desember 2018

Keripik Bayam

     Bermula saat pekan lalu pulang ke Cianjur, saya ingin membeli keripik bayam di toko oleh-oleh langganan ternyata sedang tidak ada. Kecewa deeh... 
    Ya sudah, akhirnya saya kembali ke Bandung tanpa membawa keripik bayam. Nah, kemarin (Ahad) saya mengajak suami ke pasar minggu yang ada di daerah Cikalong, Pangalengan. Rencana awalnya sih hanya untuk cuci mata sekalian olahraga, haha... 
    Kami datang agak pagi sehingga para pedagang sayuran masih agak banyak. Qadarullah, saya lewat depan pedagang sayuran yang menjual bayam. Saya pun langsung membelinya, seikat aja dengan temannya haha...
    Kemudian, ketika akan memasak bayam, saya perhatikan ternyata daun bayamnya itu ada yang besar-besar. Iseng-iseng, saya pun mencoba membuat keripik bayam. Karena tepung terigunya hanya tinggal sedikit, saya pun membuat tidak banyak.
                                                                Resep Keripik Bayam
Bahan:
  • Beberapa buah daun bayam
  • Tepung terigu
  • Garam secukupnya
  • Penyedap rasa secukupnya
  • Air (untuk mengencerkan tepung) secukupnya
Langkah-langkah
  • Cuci bersih daun bayam yang sudah dipetik (usahakan tangkainya ada sedikit)
  • Masukkan tepung terigu, garam dan penyedap rasa ke mangkuk.
  • Tambahkan air dan aduk rata. Jangan terlalu kental dan terlalu encer.
  • Panaskan wajan berisi minyak agak banyak.
  • Celupkan daun bayam ke adonan tepung satu persatu, lalu masukkan ke wajan yang sudah panas. 
  • Tunggu hingga matang, lalu tiriskan. 
  • Lakukan hingga tepung habis.  
  • Keripik bayam siap disajikan.
    Nah, begitulah cara saya membuat keripik bayam. Kalau saya gugling di google sebenarnya seharusnya di tambahkan tepung beras juga, lalu bumbunya bumbu halus yang terdiri dari ketumbar dan bawang putih. Tapi saya lewatkan itu semua, karena saya sudah terlanjur menyalakan kompor, hihihi....
     Walaupun sederhana, tapi cukup enak kok. Kita hanya harus sabar karena daunnya kita celupkan ke tepung satu persatu, dan bila menggunakan wajan yang ukuran sedang paling hanya bisa menggoreng 4 - 5 daun saja.  
      Semoga bermanfaat dan selamat mencoba :D

Sabtu, 01 Desember 2018

PPG

Apa sih itu PPG?
     Mungkin beberapa teman masih bertanya-tanya dengan apa itu PPG. PPG merupakan kepanjangan dari Pendidikan Profesi Guru. Dulu, namanya PLPG, dengan program pendidikan selama 10 hari. Tahun ini, PLPG ditiadakan dan diganti dengan PPG. 
     Program pendidikannya lumayan kompleks, untuk saya yang tahap 1, berlangsung selama kurang lebih 6 bulan. Tetapi, saya dengar teman-teman dari tahap 2 kurang dari 6 bulan, begitu pula dengan teman-teman dari tahap 3. Mudah-mudahan ke depannya, prosesnya semakin singkat. Karena, menurut pendapat pribadi saya, waktu selama 6 bulan itu bukanlah waktu yang singkat. Ada keluarga dan siswa yang saya tinggalkan. Coba bayangkan bila dalam satu sekolah, tiga orang saja gurunya ikut PPGDJ, waaah, kasian siswa ketinggalan pelajarannya banyak. Tapi ini sih hanya imajinasi saya (yang mungkin keterlaluan), hehe...

PPG ada dua macam, PPG dalam jabatan dan pra jabatan.
1. PPG Dalam Jabatan (PPGDJ) => diikuti oleh guru yang sudah mengabdi selama minimal 2 tahun di sekolah. Untuk mengikuti PPGDJ, guru akan diundang untuk mengikuti pretest. Bila sudah lulus, maka tinggal mengikuti langkah selanjutnya. Bila belum lulus, akan tetap dipanggil untuk mengikuti pretest. Saya belum tahu apakah ada batas maksimalnya untuk pretest, semoga saja tidak.

2. PPG pra jabatan => diikuti oleh umum, maksudnya orang yang belum mengajar juga bisa mengikuti program ini. Syaratnya sendiri antara lain belum nikah dan belum bekerja. Setahu saya, PPG pra jabatan ini prosesnya selama satu tahun, terdiri dari 6 bulan perkuliahan dan 6 bulan PPL.

     Pra jabatan tentunya lebih sulit dan lebih lama dari dalam jabatan, karena yang mengikuti pra jabatan bukan guru yang mengajar (walau sebenarnya bisa juga guru mengikuti program ini). 
Setelah mengikuti uji pengetahuan dan uji kinerja, para peserta PPG akan dinyatakan kompeten. Untuk peserta yang dinyatakan kompeten akan mendapatkan sertifikat pendidik yang nantinya juga akan memperoleh tunjangan (dikenal dengan istilah sertifikasi :D)
     Sedangkan peserta yang belum dinyatakan kompeten, mereka akan mengulang lagi ujiannya saja. Misal belum lulus karena tidak lulus uji pengetahuan maka dia akan mengulang uji pengetahuannya saja. Begitu juga dengan peserta yang tidak lulus di uji kinerja, dia akan mengulang uji kinerjanya saja. Begitulah sekilas tentang PPG, semoga memberikan pencerahan :D

Perjalanan PPG Daljab Tahap 1 2018

     Kali ini saya ingin menceritakan sedikit tentang perjalanan (ceilah) yang saya tempuh. Tahun 2017, saya dan kelima orang rekan guru mengikuti pretest. Dari ke-6 orang itu, alhamdulilah saya lulus. Kemudian, menunggu sekitar sebulan, pada awal Desember, Operator (Op) sekolah memberitahu saya untuk mempersiapkan ijazah dan lain sebagainya, pemberkasan dia bilang. Saya pun lalu menyiapkan berkas yang dia minta, antara lain ijazah S-1, transkip nilai, surat keterangan bebas NAPZA dari RSUD, surat keterangan sehat dari puskesmas, SKCK dari polsek, SK GTT/GTY, Surat mengajar selama 2 tahun, dan jadwal mengajar saya. Kemudian saya serahkan ke dinas pendidikan kab. Bandung. Setelah pemberkasan itu, saya diminta untuk memantau situs sergur. Oiya, saat menyerahkan berkas ke dinas, saya bertemu dan berkenalan dengan seorang guru dari Ciwidey. 
     Saat memantau situs tersebut, saya jadi mengetahui bahwa berkas saya telah disetujui oleh dinas dan diverifikasi oleh LPMP. Kemudian, masih di situs sergur, saya mengetahui bahwa saya lulus dan berhak mengikuti PPG dalam jabatan. Kemudian saya mengisi surat pernyataan untuk mengikuti PPG dan diharuskan untuk mencetak AP 1.  Setelah mengisi surat tersebut, saya tahu bahwa saya termasuk ke dalam peserta PPG dalam jabatan tahap 1 tahun 2018. Seorang rekan dari sekolah lain yang ikut pretes sama dengan saya ternyata dia menjadi peserta PPG daljab tahap 2. Butuh waktu kurang lebih 2 minggu hingga di sergur diumumkan bahwa saya akan mengikuti PPG di UPI. Dari sergur itu disertakan link untuk masuk ke website UPI. 
     Dari situ, kemudian saya terus memantau web UPI. Seingat saya, itu bulan Juni dan belum ada pengumuman apapun. Saya merayakan hari raya Idul Fitri dengan penuh kekhawatiran. Kurang lebih sepuluh hari setelah lebaran, web UPI sudah bisa diakses, lengkap dengan tugas-tugasnya. Dalam tugas daring tersebut, saya juga dikejar dateline. 1-2 modul harus diselesaikan dalam waktu 1 minggu. Pada sesi pedagogik, ada sekitar 4 modul dengan tiap modul ada beberapa tugas. Mantap banget itu. Pada sesi profesional ada sekitar 8 modul dengan tiap modul terdiri dari beberapa sub dengan beberapa tugas. Setiap hari saya duduk depan laptop mengerjakan tugas, alhamdulilahnya waktu itu libur sekolah. Tekanan semakin meningkat saat akan masuk sekolah kemudian tugas di modul akhir ternyata diharuskan membuat video mengajar. Singkat cerita, masa daring pun sudah saya lalui. Daring yang seharusnya 3 bulan, dilaksanakan hanya dalam waktu 1,5 bulan. Kemudian saya menunggu lagi, alhamdulilah saya lulus sesi daring dan berhak mengikuti workshop. 
     Pada hari Jumat, saya diantar suami ke UPI untuk melakukan daftar ulang. Saat itu, pertama kali saya bertemu dengan rekan-rekan yang selama ini menemani dan sharing via whatsapp. Ternyata, saya sekelas dengan wanita yang saya temui di dinas saat menyerahkan berkas :D bahkan dia pun menjadi teman sekamar saya selama workshop di UPI. Kami, peserta PPG dalam jabatan (PPGDJ) tahap 1 mencari tempat kosan sendiri, biaya hidup dan transportasi selama workshop kami tanggung sendiri. Hari-hari pertama di minggu awal terasa berat untuk saya. Tapi alhamdulilah, saya mempunyai suami dan teman sekamar yang super dan saling menyemangati, juga teman-teman sekelas yang super.
     Kami belajar dari dosen-dosen yang luar biasa, yang memberikan motivasi untuk menjadi guru yang profesional. Kami belajar dari Senin hingga Jumat, dari pukul tujuh hingga pukul lima bahkan tak jarang kami baru selesai jam enam sore. Sungguh, sebuah perjuangan buat saya. Hingga lima pekan pun berlalu tanpa terasa, di akhir pekan kelima saya akan mengikuti Uji Pengetahuan (UP). Sepekan sebelumnya, kami mengikuti try-out UP dulu :D
     Setelah UP, saya belum bisa bernafas lega karena kami harus mengikuti alur berikutnya, yaitu PPL. Waktu itu, saya masih bisa mengadakan PPL di daerah asal selama guru yang mengikuti PPL di daerah tersebut ada 4 orang. Saya dan teman-teman sekelas pun berpisah di sini dan kembali ke daerah asal. Saya dan tiga orang teman yang sama-sama berasal dari kab. Bandung pun PPL di sekolah yang sama di Banjaran. Alhamdulilah, guru pamong kami sangat baik dan pengertian, saya pun mendapatkan siswa dari kelas yang soleh-solehah. Kami menjalani PPL selama lima minggu, awalnya kami harus menjalani selama tiga minggu, tapi ternyata ada perubahan sehingga menjadi lima minggu. Di pekan kelima, kami sudah tidak mengajar, kami menunggu jadwal Uji Kinerja (UKin). Untuk UKin, kami akan dinilai oleh seorang guru penguji dari sekolah PPL dan dosen penguji dari LPTK. Alhamdulilah kami berhasil melaluinya. 
     Awal November kami melakukan UKin, dan alhamdulilah di minggu ketiga sudah ada pengumuman kelulusan PPGDJ tahap 1. Qadarullah, dari sekitar 30 orang teman sekelas, ada beberapa orang yang dinyatakan belum lulus dan harus mengulang. Sedih sih rasanya, karena kami melewatinya bersama, alhamdulilah saya lulus :D

Ringkasnya, alur untuk saya PPGDJ tahap 1 adalah
DARING (3 bulan) - WORKSHOP (5 pekan) - UP (1 hari) - PPL (5 pekan) - UKin (1 hari)

     Total waktu yang saya habiskan adalah kurang lebih 6 bulan. Aaaah, saya terharu. Saya sangat berterima kasih pada suami yang sangat rela berkorban (dan dia insha Allah akan menjadi pejuang PPGDJ tahun 2019), keluarga, rekan-rekan mengajar di sekolah, teman-teman PPGDJ 157-A 1st Batch, guru pamong saya, guru penguji saya serta para guru dan siswa di sekolah PPL. Semuanya karena Allah, mereka semua mau membantu saya, alhamdulilah... Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua, aamiin... 
    Untuk rekan-rekan yang akan menjadi pejuang PPGDJ, tetap semangat. Jalani saja prosesnya, insha Allah semoga Allah memudahkan aamiin...

Rabu, 24 Oktober 2018

Review Produk yang mengandung Aloe Vera

Haaai semua....
    Sekarang saya ingin menulis tentang pendapat saya mengenai produk yang mengandung lidah buaya. Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis, tetapi karena jadwal yang agak padat saya pun lupa hehe...
    Saya pernah menggunakan Wardah Aloe Vera. Saya gunakan hanya untuk wajah saja. Menurut saya, wanginya lembut dan cepat kering. Memang agak lengket beberapa saat setelah diaplikasikan but it's alright. Saya menggunakan produk ini sebagai base make up sebelum saya menggunakan pelembab. Hihihi... saya hanya menggunakan base, pelembab, bedak dan lipstik saja bila akan mengajar. Tidak pakai blush on, maskara, apalagi pensil alis, haha... 
    Setelah wardah aloe vera tersebut habis, tadinya saya mau membeli lagi, tapi setelah membaca beberapa artikel yang menyebutkan bahwa produk tersebut sekarang hanya boleh digunakan di tubuh (bukan wajah) saja, saya pun jadi bimbang. 
    Saya pun agak tertarik dengan produk yang sedang kekinian, yaitu Nature Republik Aloe Vera. Tapi saya masih ragu-ragu karena banyaknya produk sama dengan harga yang berbeda. Pertimbangan saya, ini kan produk untuk wajah, jadi saya tidak boleh salah pilih. 
     Saya ingat seorang teman yang pernah mengiklankan produk ini, lalu saya menghubungi dia. Akhirnya saya beli di online shopnya, insha Allah asli, produk Korea dengan harga 150 ribu rupiah. 
    Setelah barangnya datang, ternyata memang produknya besar yah. Walaupun isinya tertera 300 gr. FYI, wardah aloe vera yang 100 ml saja saya habiskan dalam waktu kurang lebih 2 bulan, apalagi ini yang 300 gr :)) 
    Baiklah, menurut saya, saya lebih suka dengan nature republik. Karena
  1. Teksturnya lebih creamy.
  2. Tidak lengket dan dingin di wajah (walaupun mungkin hal ini  disebabkan kandungan alkoholnya)
  3. Isi lebih banyak (emak - emak ga mau rugi, hehe... ) 
    Karena bentuknya yang tidak friendly untuk dibawa kemana-mana, saya masukkan ke jar bekas pelembab (yang sudah saya cuci), sehingga lebih praktis hehe...
    Demikian review dari saya, Jangan tergiur harga murah dan isi besar, pilih produk yang sesuai dengan kondisi wajah dan kulit teman-teman yaa...

Review Masker Bali Alus

Assalamualaikum...
     Sudah lama juga saya tidak menulis di blog, hehe... Kali ini saya mau menulis tentang pendapat saya setelah mencoba menggunakan masker Bali Alus. 
     Beberapa waktu lalu stok masker (ceileh...) saya habis, jadi saya pun lama tidak maskeran. Saat sedang berjalan-jalan di Ig, saya tertarik dengan produk Bali Alus. Kebetulan penjualnya juga menjual lulur Bali Ratih dan lulur saya juga sudah lama habis.
    Karena si penjual tidak mencantumkan harga dan juga stok (saya harus mengirim pesan WA untuk menanyakan stok dan harga), kemudian saya pun jalan-jalan di shopee, mencari produk Bali Alus. Setelah mencari-cari, akhirnya ketemu deh penjual (yang sepertinya) tangan pertama produk tersebut. Karena harganya beda beberapa rupiah dari tawaran-tawaran produk serupa dan lokasinya di Denpasar, Bali. 
     Saya akhirnya memutuskan untuk memesan masker face and body Bali Alus aroma strawberry (100 gr), peeling cream (50 gr), dan lulur Bali Ratih aroma strawberry (100 gr). FYI, saya sudah jatuh cinta dengan lulur dan body mist Bali Ratih, hihihi... 
Pesanan Bali Alus dan Bali Ratih
     Menurut saya, pengirimannya cukup cepat walaupun dikirim dari Denpasar. Setelah transfer, sekitar 2 - 3 hari kemudian, pesanan tersebut sudah saya terima. Karena sudah tidak sabar, malam harinya lalu saya gunakan peeling cream dan masker Bali Alus. 
     Saya pikir, maskernya itu sedikit ya, ternyata setelah saya buka, isinya lumayan banyak (menurut saya). Saya masukkan masker tersebut ke wadah kecil yang 250 gr itu hampir setengahnya terisi. Waah, bisa hemat nih, hehe...
     Setelah mencuci wajah, saya gunakan peeling cream terlebih dahulu. Manfaat peeling cream yang tertera adalah
  1.  Membantu membuat kulit wajah tampak lebih bersih.
  2. Menyamarkan kerut, pori - pori dan komedo.
    Dianjurkan untuk dipakai dua kali dalam seminggu di malam hari. Tapi beberapa artikel di google menyebutkan bahwa peeling cream baiknya hanya digunakan seminggu sekali. Saya akan mencoba seminggu dua kali dulu, bila menyebabkan wajah saya menjadi kering, maka selanjutnya akan saya gunakan seminggu sekali.
     Setelah membilas wajah lalu saya pun bersiap meracik maskernya. Masker Bali Alus ini bentuknya bubuk, jadi harus diberi air agar bisa diaplikasikan ke wajah. Karena terbiasa menggunakan dua sendok (es krim) untuk takaran masker sebelumnya, saya pun menakar masker Bali Alus dengan 2 sendok lalu saya tambahkan air mawar (bisa juga menggunakan air biasa, saya gunakan air mawar karena stok air mawar saya masih ada hehe) hingga menjadi pasta. 
     Ternyata, setelah saya aplikasikan ke wajah, takaran 2 sendok itu terlalu banyak :D. Alhasil saya pun mengaplikasikan masker tersebut cukup tebal, haha...
     Setelah 20 menit, saya membilas masker dengan air dingin. Hasilnya, menurut saya, wajah saya menjadi lebih lembut dan enak dipegang, haha...
    Saat pemakaian kedua (selang dua hari kemudian), saya menakar 1 sendok saja dan itu masih cukup banyak haha... 
     Ketika diaplikasikan ke wajah, untuk saya, masker ini terasa dingin (saya sampai harus meraba untuk mengetahui apakah maskernya sudah kering atau belum, haha) dan membuat wajah kaku.
     Menurut saya, aroma strawberry nya tidak terlalu kuat seperti Bali Ratih, tapi lumayan wangilah bahkan setelah dibilas masih tercium aromanya. Kemudian bubuknya berwarna agak pink, dan setelah ditambahkan air warnanya memang menjadi pink. Ada butiran - butirannya juga tetapi tidak kasar. Oiya, produk ini sesuai judulnya, masker face and body, bisa juga digunakan untuk menjadi lulur tubuh. Tapi saya hanya akan menggunakannya sebagai masker wajah saja hehe...
    Setelah masker ini habis, mungkin saya akan kembali membelinya dan mencoba varian baru, hihihi... Untuk teman-teman yang ingin berhemat tapi tetap bisa merawat wajah, bisa dicoba nih masker Bali Alus ini. Saya beli di shopee, itu harganya sekitar 18ribu rupiah. Masker ini banyak variannya, silakan browsing sendiri yaa mana yang cocok atau diinginkan.
     Sekian review dari saya, semoga bermanfaat.