expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 24 Oktober 2018

Review Masker Bali Alus

Assalamualaikum...
     Sudah lama juga saya tidak menulis di blog, hehe... Kali ini saya mau menulis tentang pendapat saya setelah mencoba menggunakan masker Bali Alus. 
     Beberapa waktu lalu stok masker (ceileh...) saya habis, jadi saya pun lama tidak maskeran. Saat sedang berjalan-jalan di Ig, saya tertarik dengan produk Bali Alus. Kebetulan penjualnya juga menjual lulur Bali Ratih dan lulur saya juga sudah lama habis.
    Karena si penjual tidak mencantumkan harga dan juga stok (saya harus mengirim pesan WA untuk menanyakan stok dan harga), kemudian saya pun jalan-jalan di shopee, mencari produk Bali Alus. Setelah mencari-cari, akhirnya ketemu deh penjual (yang sepertinya) tangan pertama produk tersebut. Karena harganya beda beberapa rupiah dari tawaran-tawaran produk serupa dan lokasinya di Denpasar, Bali. 
     Saya akhirnya memutuskan untuk memesan masker face and body Bali Alus aroma strawberry (100 gr), peeling cream (50 gr), dan lulur Bali Ratih aroma strawberry (100 gr). FYI, saya sudah jatuh cinta dengan lulur dan body mist Bali Ratih, hihihi... 
Pesanan Bali Alus dan Bali Ratih
     Menurut saya, pengirimannya cukup cepat walaupun dikirim dari Denpasar. Setelah transfer, sekitar 2 - 3 hari kemudian, pesanan tersebut sudah saya terima. Karena sudah tidak sabar, malam harinya lalu saya gunakan peeling cream dan masker Bali Alus. 
     Saya pikir, maskernya itu sedikit ya, ternyata setelah saya buka, isinya lumayan banyak (menurut saya). Saya masukkan masker tersebut ke wadah kecil yang 250 gr itu hampir setengahnya terisi. Waah, bisa hemat nih, hehe...
     Setelah mencuci wajah, saya gunakan peeling cream terlebih dahulu. Manfaat peeling cream yang tertera adalah
  1.  Membantu membuat kulit wajah tampak lebih bersih.
  2. Menyamarkan kerut, pori - pori dan komedo.
    Dianjurkan untuk dipakai dua kali dalam seminggu di malam hari. Tapi beberapa artikel di google menyebutkan bahwa peeling cream baiknya hanya digunakan seminggu sekali. Saya akan mencoba seminggu dua kali dulu, bila menyebabkan wajah saya menjadi kering, maka selanjutnya akan saya gunakan seminggu sekali.
     Setelah membilas wajah lalu saya pun bersiap meracik maskernya. Masker Bali Alus ini bentuknya bubuk, jadi harus diberi air agar bisa diaplikasikan ke wajah. Karena terbiasa menggunakan dua sendok (es krim) untuk takaran masker sebelumnya, saya pun menakar masker Bali Alus dengan 2 sendok lalu saya tambahkan air mawar (bisa juga menggunakan air biasa, saya gunakan air mawar karena stok air mawar saya masih ada hehe) hingga menjadi pasta. 
     Ternyata, setelah saya aplikasikan ke wajah, takaran 2 sendok itu terlalu banyak :D. Alhasil saya pun mengaplikasikan masker tersebut cukup tebal, haha...
     Setelah 20 menit, saya membilas masker dengan air dingin. Hasilnya, menurut saya, wajah saya menjadi lebih lembut dan enak dipegang, haha...
    Saat pemakaian kedua (selang dua hari kemudian), saya menakar 1 sendok saja dan itu masih cukup banyak haha... 
     Ketika diaplikasikan ke wajah, untuk saya, masker ini terasa dingin (saya sampai harus meraba untuk mengetahui apakah maskernya sudah kering atau belum, haha) dan membuat wajah kaku.
     Menurut saya, aroma strawberry nya tidak terlalu kuat seperti Bali Ratih, tapi lumayan wangilah bahkan setelah dibilas masih tercium aromanya. Kemudian bubuknya berwarna agak pink, dan setelah ditambahkan air warnanya memang menjadi pink. Ada butiran - butirannya juga tetapi tidak kasar. Oiya, produk ini sesuai judulnya, masker face and body, bisa juga digunakan untuk menjadi lulur tubuh. Tapi saya hanya akan menggunakannya sebagai masker wajah saja hehe...
    Setelah masker ini habis, mungkin saya akan kembali membelinya dan mencoba varian baru, hihihi... Untuk teman-teman yang ingin berhemat tapi tetap bisa merawat wajah, bisa dicoba nih masker Bali Alus ini. Saya beli di shopee, itu harganya sekitar 18ribu rupiah. Masker ini banyak variannya, silakan browsing sendiri yaa mana yang cocok atau diinginkan.
     Sekian review dari saya, semoga bermanfaat.

Kamis, 16 Agustus 2018

Bubur Kacang Hijau

Persediaan gula merah di kulkas masih menumpuk, alhamdulilah kemarin saya dapat 'oleh-oleh' dari sekolah berupa kacang hijau. Jadi, langsung deh bikin bubur kacang hijau. 

Bahan-bahan
Kacang hijau
Santan (saya pakai santan bubuk Sasa)
 Jahe
Gula merah
Sedikit garam
Gula putih (optional)

Cara membuat
1. Cuci kacang hijau terlebih dahulu lalu rendam semalaman.
2. Buang air rendaman kacang hijau.
3. Rebus kacang hijau dengan api sedang. Tunggu hingga kacang empuk.
4. Setelah kacang empuk lalu masukkan gula merah dan sedikit garam. Aduk rata.
5. Masukkan jahe yang sudah diiris tipis. Aduk rata.
6. Masukkan santan, aduk rata. (koreksi rasa, bila masih terasa kurang manis tambahkan lagi gula, baik gula merah atau gula putih)
7. Matikan api dan tunggu  hingga hangat, lalu sajikan.

Mudah sekali untuk membuat bubur kacang hijau, hanya perlu ekstra kesabaran ketika menunggu kacangnya empuk. Saya pernah membuat kacang hijau, tapi waktu itu kacangnya tidak mau empuk padahal sudah saya rendam semalaman. Ternyata oh ternyata, saya salah, saya memasukkan gula merah tanpa menunggu si kacang empuk, haha...  Ya, saya kurang sabar menunggu sehingga memasukkan gula bersamaan dengan kacang ketika airnya mendidih, jadi si kacang juga tidak mau menjadi empuk. Tapi dari pengalaman itu saya jadi belajar, belajar untuk sabar, hee...
Selamat mencoba teman-teman ^_^

Masker Wajah

        Setelah lulus kuliah, saya mulai intens merawat wajah. Terutama setelah melihat teman-teman di kosan suka melakukan perawatan tubuh, entah itu luluran maupun maskeran. Saya suka menggunakan masker sebelum tidur, rasanya wajah lebih fresh hehe...
       Saran saya untuk teman-teman, gunakan masker wajah sesuai dengan jenis kulit wajah teman-teman. Karena beberapa masker (terutama masker alami) hanya bisa diaplikan untuk jenis kulit wajah tertentu saja. Jenis kulit wajah saya adalah normal. Selain itu, gunakan masker wajah di malam hari, sebelum tidur atau di pagi hari sebelum beraktivitas. Kalau saya biasanya menggunakan masker setelah shalat magrib sambil menunggu shalat Isya. Lalu bersihkan wajah dulu dari make-up sebelum menggunakan masker dan boleh membilas masker menggunakan air hangat.
Nah, berikut adalah masker - masker yang sering saya gunakan.  
a. Lidah buaya
Sejak SMP dulu, saya paling sering menggunakan lidah buaya, baik untuk masker wajah maupun masker rambut. Bukan lidah buaya yang sekarang sudah banyak dijual di pasaran, tapi memang benar-benar tanaman lidah buaya. Sejak dulu, ibu saya sudah menanam lidah buaya. Satu lembar lidah buaya itu biasaya bisa saya gunakan untuk 3 - 4 kali. Caranya mudah sekali, lidah buaya dipetik lalu disimpan berdiri agar getahnya (yang kekuning-kuningan) keluar semua. Setelah itu dicuci (tapi tidak dicuci pun tidak masalah), lalu lidah buayanya dipotong agak kecil, kira-kira cukup untuk satu kali pakai saja, lalu oleskan rata ke wajah kecuali mata dan bibir. Tunggu hingga kering, kurang lebih 25 menit lalu dibilas menggunakan air biasa. Saya menggunakan lidah buaya hampir setiap hari (dulu), hasilnya wajah saya hingga sekarang agak glowing. Bahkan sering disangka berminyak :( 

b. Susu 
Susu yang biasanya saya gunakan sebagai masker adalah susu bubuk Dancow yang full cream. Satu sachet itu bisa untuk 8 hingga 10 x pemakaian. Awalnya saya coba memakai masker susu setiap malam, tapi baru juga menggunakan selama tiga malam berturut-turut wajah saya terasa kering. Sejak saat itu, saya menggunakan masker susu hanya seminggu sekali atau dua kali. Suami saya bilang, wajah saya agak cerah (bukan putih ya) setelah menggunakan masker tersebut, hehe...
Cara menggunakan masker susu, tuangkan satu sendok susu (saya gunakan sendok eskrim) ke cawan kecil lalu campur dengan air mawar atau air biasa bila tidak ada air  mawar (saya gunakan air mawar viva). Jangan terlalu encer tapi juga jangan terlalu kental. Setelah itu lalu oleskan ke wajah dan tunggu selama kurang lebih 20 menit. Setelah itu bilas dengan air biasa.

c. Spirulina (produk tiens) 
Nah, ini juga salah satu produk kesukaan saya. Kalau mau pesasn, boleh langsung hubungi saya ya, hehe (sekalian promosi). Kalau sedang rajin, saya biasanya gunakan spirulina ini setiap malam sebelum tidur. Tapi bila tidak sedang rajin, minimal saya gunakan seminggu dua kali. Caranya pemakaiannya, buka kapsul spirulina dan tuangkan bubuknya ke cawan kecil. Setelah itu lalu tambahan air mawar (saya gunakan air mawar Viva) atau air biasa juga tidak apa-apa. Jangan terlalu encer maupun kental. Lalu oleskan ke wajah. Tunggu selama kurang lebih 25 menit, lalu bilas dengan air biasa. 

Nah, itulah masker wajah andalan saya. Mudah dan murah meriah bukan, tapi yang terpenting bisa merawat wajah agar tetap menawan untuk suami tercintah :D

Jumat, 20 Juli 2018

Trans Jawa

Tentu tidak asing kan mendengar kata Trans Jawa. Yupz, itu adalah nama jalan tol yang baru saja diresmikan dan baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di dunia maya. 
Jadi ceritanya, kegiatan saya di akhir Ramadhan dan Sya'ban sama seperti kegiatan saya tahun sebelumnya di awal bulan Syaban yakni mengantar adik kembali ke pondok pesantren Gontor, Tapi kali ini saya mengantar adik saya bersama suami menggunakan kendaraan pribadi dan adik saya itu tahun ini harus kembali lebih cepat daripada tahun lalu. Bila tahun lalu dia kembali pada tanggal 9 Sya'ban tahun ini dia harus kembali pada tanggal 5 Sya'ban. Jadi, sungguh terasa mudiknya.
Kami berangkat dari Cianjur pada tanggal 4 Sya'ban pagi, sekitar jam 4 subuh dan jalanan sungguh ramai sehingga kami baru tiba di Gontor tanggal 5 Sya'ban jam 8 pagi. 24 jam lebih di jalan, luar biasa sekali. Itu melelahkan buat kami yang memang belum pernah merasakan "indahnya" perjalanan mudik.
Oiya, ketika di Solo kami memutuskan untuk lewat jalur tol trans jawa, masuk dari gerbang Solo dan keluar di gerbang tol Sragen. Pada 5 Sya'ban itu, saya lalu membayar administrasi adik saya. Tapi karena santriwati belum boleh masuk ke kamarnya sebelum jam 12 malam, akhirnya kami pun kebingungan. Akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah mbah di Madiun. Kami lalu mengecek peta, bohong dink, google maps yang kemudian mengarahkan kami ke tol Ngawi yang nantinya keluar di gerbang tol Madiun. Okelah, kami pun lalu mengikuti jalur tersebut. Ternyata, alhamdulilahnya, Madiun - Mantingan (dalam hal ini adalah rumah mbah hingga ke Gontor) itu bisa ditempuh selama satu setengah jam perjalanan. Kami tiba di rumah mbah sekitar jam setengah satu siang (karena berangkat jam sebelas dari Gontor). Kami mandi, dan melepas lelah sambil mengobrol dengan keluarga mbah.
Karena ayah khawatir, kami pun lalu berangkat lagi Gontor untuk mengantarkan adik jam setengah 6. Tiba di Gontor jam 7. Singkat cerita, kami pun kembali lagi ke Madiun sekitar jam 10 malam, lagi-lagi lewat tol Ngawi - Madiun, sehingga kami tiba di rumah mbah sekitar jam 11 malam (efek malam mungkin ya, jadi perjalanan lebih cepat).
Oiya, waktu itu tarif tol Solo - Sragen masih digratiskan, sedangkan untuk tarif tol Madiun - Ngawi saya lupa lagi berapa, tapi perasaan saya kurang dari 35ribu karena waktu itu juga sedang ada diskon 10% dari pihak tolnya. 
Keesokan harinya, kami pun pulang ke Cianjur. Dari Madiun kami masih menggunakan jalan tol, tapi kali ini kami tidak keluar di gerbang tol Ngawi melainkan di gerbang tol Solo. Tarifnya dibayar tiga kali, pertama di gerbang tol Ngawi, kemudian di gerbang tol Sragen, dan terakhir di gerbang tol Solo. Sehingga tidak dibayar sekaligus di gerbang tol Solo. 
Pendapat saya tentang jalan tol ini adalah, pada waktu itu saya sangat terbantu sekali. Waktu tempuh Madiun-Ngawi, Solo-Sragen, dan Madiun - Solo lebih singkat dibanding lewat jalan biasa. Adik saya tiba di pondok tepat waktu (sebelumnya kami khawatir adik saya telat yang mengakibatkan dia mendapat hukuman). Sayangnya, pada waktu itu jalan tol tersebut masih belum dilengkapi lampu penerang jalan, sehingga di malam hari tentunya akan gelap. Selain itu, lalu lintasnya masih belum terlalu ramai. Sehingga kami memutuskan untuk lewat jalur selatan daripada jalan tol ketika perjalanan pulang. 
Nah, itulah sepintas tentang pengalaman saya melewati jalur Trans Jawa.

Resep: Ikan cobek

Saya ngiler ketika melihat teman di kontak saya, yang memang dia penjual makanan, yang selalu iklan menu andalannya, yaitu ikan cobek. Saya pun pernah mencicipinya sekali, dan rasanya bikin ketagihan. Sayangnya, teman saya itu tinggal di Cianjur sedangkan saya di Bandung Selatan. Akhirnya, saya pun membuat sendiri ikan cobek versi saya, qadarullah di mang sayur ada ikan hehe....
Nah, ini resep ikan cobek versi saya.
Bahan:
- Ikan (saya dapatnya ikan nila yang besar, lalu saya potong jadi tiga bagian)
- Bawang merah 4 siung
- Bawang putih 2 siung
- Cengek/cabai sesuai selera (saya pakai 7 buah cengek yang agak besar)
- Bumbu ikan instan (atau pakai garam saja juga tidak apa-apa)

Cara membuat:
1. Cuci bersih ikan lalu lumuri dengan bumbu ikan instan (atau garam saja) selama satu jam. Saya sih semalaman.
2. Goreng ikan yang sudah dilumuri garam.
3. Sambil menggoreng ikan, kita buat sambal cobeknya dengan cara uleg kasar bawang merah, bawang putih, dan cengek.
4. Ikan matang,angkat dan tiriskan. Lalu ganti wajan (atau bisa menggunakan wajan bekas menggoreng ikan tapi minyaknya dikurangi) untuk menumis sambal cobek.
5. Setelah wangi, tambahkan sedikit air tunggu hingga  mendidih, tambahkan garam, gula dan penyedap rasa (bila suka).
6. Cek rasa, bila sudah pas lalu masukkan ikan yang sudah digoreng.
7. Tunggu beberapa menit jangan lupa dibalik agar airnya meresap ke ikan.
8. Ikan cobek sudah siap untuk disantap dengan nasi hangat.

Kalau suka pedas, beri banyak cabai dan atau cengek. Berhubung suami kurang suka pedas, jadi saya cukup menggunakan 7 buah cengek saja. Rasanya mantap... Pengen nambah nambah lagi, hehehe...
Oiya, tentunya resep saya ini ada beberapa versi ya. Resep ini saya dapatkan dari ibu saya. Silakan googling saja. Selamat memasak ^_^