expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Kamis, 19 Januari 2017

Kuliner di Cianjur

Ketika saya sedang berada di Bandung, saya selalu rindu dengan Cianjur (drama banget :D)
Jadi begitu saya meluncur ke Cianjur, saya selalu sempatkan untuk membeli makanan-makanan kesukaan saya. Menurut saya rasanya begitu enak, dan belum ada yang seperti itu di tempat saya sekarang.
1. Seblak Ceker Bojong
Seblak yang satu ini, enak banget menurut saya. Dengan harga 10ribu rupiah, dijamin kenyang. Sebenarnya si penjualnya tidak hanya menyediakan seblak ceker, tapi ada juga seblak biasa, seblak sayap, seblak kikil, dan lain sebagainya. Tapi karena saya pecinta ceker, jadi saya lebih suka seblak ini hihihi... Porsinya juga mantap, kalo lagi lapar saya bisa menghabiskan sendirian seporsi seblak ini. Tapi kalo tidak lapar, biasanya saya memakannya berdua dengan adik atau ibu saya hehe...

2. Mie Yamin 
Sekarang sudah banyak yang menjual mie yamin di Cianjur, tapi tetap favorit saya adalah mie yamin mang Ade yang berada di jalan Taifur Yusuf (kalo saya tidak salah ingat, maafkan saya yang tidak memperhatikan nama jalannya karena saya lebih sering menghafal jurusan angkotnya haha).

3. Bakso Mojok
Ada beberapa kios Bakso Mojok di Cianjur, tapi saya lebih sering ke kios yang dekat rumah. Jangan ditanya kenapa saya suka, baksonya yang gede dan didalamnya ada potongan ati sapi atau kikil kemudian mie dan juga potongan kikil yang yummy. Tapi si kuahnya tidak bergajih, jadi bapak saya (yang sudah tidak boleh makan makanan bergajih) juga suka hihihi...
4. Sop Buah depan Hypermart Cianjur
Ini nih yang seger-seger kesukaan si bungsu. Dia kalo mau sop buah pasti belinya harus disini. Kalo beli di tempat lain dia pasti tidak mau. Isinya campuran buah-buahan dengan susu dan sirop, segar dimakan di siang yang panas :D

Sebenarnya banyak tempat makan lain di Cianjur, tapi ini kan tempat makan kesukaan saya hihihi...
Saya kurang upto-date dengan tempat makan lain karena saya tidak punya banyak waktu (dan uang, haha) ketika berkunjung ke Cianjur, jadi ya saya hanya mengunjungi tempat makan kesukaan saya aja hihihi...

Ke Pondok Pesantren Modern Gontor Darussalam

Pertengahan tahun lalu, adik ketiga saya telah lulus dari SMP dan dia ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Alhamdulilahnya dia ingin melanjutkan sekolah ke pesantren atas inisiatif dia sendiri dan dukungan orang tua kami. Awalnya, saya mencarikan dia informasi pesantren yang berada di dekat rumah, atau sekitaran Cianjur (Sukabumi, Bogor, dan Bandung). Tapi dia tidak mau.
Kebetulannya, ada tetangga yang memiliki sepasang anak kembar yang melanjutkan sekolah ke ponpes Gontor Putra dan sekarang si tetangga itu ingin memasukkan anak ketiganya ke Gontor Putri. Jadi, orang tua kami mendapatkan informasi dari tetangga tersebut.
Singkat cerita, setelah selesai mengikuti UN, adik saya langsung ikut pelatihan yang diadakan oleh alumni Gontor yang berasal dari Cianjur selama kurang lebih 20 hari. Selama pelatihan, dia diharuskan untuk mondok di pesantren yang telah ditentukan. Mungkin agar adik saya sebagai calon santri bisa terlebih dahulu mengetahui bagaimana rasanya hidup di pondok. Setelah dia selesai mengikuti pelatihan, tibalah saatnya untuk mengikuti ujian masuk yang sesungguhnya. Karena adik saya perempuan, jadi dia akan masuk ke Gontor Putri yang pusatnya berada di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur.
Dia berangkat kesana bersama dengan rombongan calon santri dari Cianjur lainnya. Jadi, para alumni Gontor itu menyewa bis untuk memberangkatkan calon santri dari Cianjur. Waktu itu dia langsung masuk ke pondok sebagai calon santri dan ujian dilaksanakan di dalam pondok antara waktu yang telah ditentukan. Seingat saya, dia disana (ketika ujian masuk) selama enam atau tujuh hari. Para alumni-lah yang membimbing dan mengawasi dia disana, termasuk memberitahu orang tua kapan pengumuman akan dilaksanakan.
Adik saya yang kedua dan si bungsu yang datang ke sana ketika pengumuman tiba, alhamdulilah adik ketiga saya diterima di Gontor Putri 1, yang artinya dia berada di Mantingan, Ngawi. Adik kedua saya pun langsung membayar biaya administrasi dan lain sebagainya termasuk membawakan sebagian barang-barang adik saya yang akan mondok itu. Informasi tentang pendaftaran dan biaya serta segala macamnya bisa langsung dilihat di websitenya, www.gontor.ac.id.
Setelah pengumuman masuk itu, adik saya sudah resmi menjadi santri Gontor Putri 1. Disana, para santri tidak boleh membawa ponsel, kamera, tv, radio, komputer atau laptop. Ayah dan ibu saya hanya bisa menunggu dia menelpon tanpa bisa menghubungi dia. Tapi kami percaya, insha Allah dia bisa menjaga dirinya sendiri, selain itu Allah juga pasti selalu melindungi dia.
Awal-awal dia masuk, dia selalu menangis setiap kali menelpon ibu dan berkata ingin pulang. Saya rasa dia terkena sick home hehe...
Dua bulan setelah dia di pondok, ayah saya meminta saya untuk mengunjungi dia dan saya menyanggupinya. Saya ingat, setiap kali akan ke rumah mbah saya di Madiun pasti melihat gerbang Gontor Putri 1. Saya pun googling untuk mencari informasi lebih lanjut. Waktu itu saya berangkat hari Rabu sore, sekitar jam 2 dari rumah, naik bis Pahala Kencana (poolnya terletak di jalan R.E Martadinata Bandung). Tapi saya terlambat, alhamdulilahnya pihak pool menelpon saya untuk menanyakan keberadaan saya. Waktu itu, saya sudah daerah Samsat Bandung, Kiaracondong. Akhirnya si pihak pool menyarankan saya menunggu bis di terminal Cicaheum. Saya dan suami pun langsung ke terminal Cicaheum, kami datang sebelum bis datang. Oiya, saya berangkat sendirian waktu itu :D.
Saya tiba di Gontor Putri 1 sekitar jam 3 lebih (dini hari), saya kurang ingat menitnya, hanya saja beberapa menit sebelum adzan subuh berkumandang. Saya bertanya ke satpam, dia menunjukkan sebuah ruangan. Tadinya saya ragu ke ruangan itu, jadi saya putuskan istirahat dulu di aula mesjid. Ada seorang ibu yang duduk disana dan kami ngobrol sedikit. Akhirnya saya paham, tempat itu untuk wali santri yang datangnya berpasangan. Bila wali santri yang datang perempuan, dia bisa menginap di ruangan tertutup sebelah aula tersebut. Bila wali santri yang datang lelaki, dia bisa menginap di ruangan tertutup yang terletak di dalam aula tersebut.
Saya pun langsung masuk ke ruangan yang dimaksud si ibu, di dalamnya ada ibu-ibu yang sedang tidur, saya pun bisa beristirahat sejenak. Di ruangan tersebut ada kamar mandinya jadi kita bisa mandi. Sayang, waktu itu saya tidak membawa baju ganti, hihihi... Selain itu, bila wali santri tidak terlalu penuh, kita bisa menginap di aula tersebut gratis, tapi kalo mau meminjam matras harus bayar sekitar 5ribu permalam. Waktu itu saya ngobrol dengan ibu-ibu, saya bilang saya tidak akan menginap. Seorang ibu yang akan pulang setelah anaknya masuk ke kelas menyuruh saya tidur di matrasnya, dia bilang matras itu sudah dia bayar. Alhamdulilah, saya pun bisa sedikit membaringkan badan disana.
Pendaftaran untuk kunjungan baru dibuka sekitar jam setengah enam pagi. Nanti ada santri-santri kelas atas yang menunggu di loket pendaftaran. Disana kita akan ditanyai nama santri, asrama (ruangan), dan kelas yang akan dikunjungi, tak lupa kita juga mengisi buku daftar tamu dan disitu ditanya hubungan kita dengan si santri.
Akhirnya saya bisa bertemu dengan adik saya tercinta sekitar jam enam kurang (sebelumnya saya nyari makan dulu untuk dia). Ketika bertemu saya, dia langsung menangis, duuuh saya jadi terharu. Kami pun makan bersama dulu karena dia melewatkan jadwal sarapannya untuk bertemu saya. Kami ngobrol hanya sekitar 30 menit, karena dia harus masuk kelas.
Ketika dia istirahat pertama, sekitar jam 10, dia menyempatkan diri menemui saya. Saya menyuruhnya membawa barang-barang yang saya bawakan untuknya. Ternyata, disana tidak boleh membawa barang dalam kardus, harus dalam tas kresek. Untunglah ada semacam kantin di depan aula mesjid, dan saya pun membeli tas kresek disana. Tapi santri yang menjaganya menggratiskan kresek itu untuk saya, alhamdulilah....
Saya pun segera menata barang bawaan saya di tas kresek tersebut.
Saya berada tidak lama disana, dan adik saya juga tidak lama-lama menemui saya karena hari itu jadwalnya padat.Ketika saya pamit pulang, dia menangis lagi dan berpesan agar mengunjunginya pada hari Jumat. Karena Jumat hari libur. Saya pun pulang ke Bandung.

Rabu, 14 September 2016

Perjalanan Singkat

Bulan Agustus lalu saya melakukan sebuah perjalanan yang menurut saya singkat karena belum pernah saya lakukan dan mungkin sekarang akan sering saya lakukan. Karena adik ketiga saya sekarang sedang menempuh pendidikannya di Pondok Pesantren Gontor Putri 1 di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur.
Saya pergi naik bis pahala kencana jurusan Bandung - Blitar, saya minta turun di depan gerbang pesantren. Saya berangkat dari rumah sekitar jam 2 siang, bisnya berangkat dari agen pusat jam 3. Oiya, agen pusatnya berada di jl. R. E Martadinata Bandung. Dari taman Pramuka belok kiri ya, bukan belok ke kanan alias ke arah BIP :D.
Tapi ternyata saya terlambat, alhamdulilah pihak agen menelpon saya sebelum jam 3, dan saya disarankan untuk menunggu di agen terminal Cicaheum. Okelah, karena saya dan suami masih di sekitar buah batu, kami pun langsung pergi ke Cicaheum. Setiba disana, busnya belum datang. Kami menunggu sekitar 15 menit dan bisnya datang. Setelah mengkonfirmasi ke agen, saya pun naik bis. Suami dadah dadah gitu (Saya pergi sendirian karena suami pada waktu itu sedang banyak kegiatan).
Saya berangkat sekitar jam 5 sore. Oiya, bis pahala kencana sudah termasuk makan satu kali (jangan tanya menunya ya, segitu juga alhamdulilah :D). Saya tiba di Gontor sekitar jam 4 pagi, sebelum subuh. Lebih cepat dari perkiraan saya. Setiba disana, karena sendirian, saya diarahkan untuk masuk ke aula khusus Putri.
Jadi orang tua yang ingin melakukan kunjungan ada 3 ruangan, aula yang terbuka untuk orang tua suami - istri, ruangan khusus putra (misal kakak lelaki atau ayah saja), dan ruangan khusus Putri (misalnya ibu, nenek, bibi, kakak perempuan saja). Ruangan putra dan putri lebih tertutup dibanding ruangan yang suami istri. Tapi lebih nyaman buat saya hehe...
Disana disediakan kamar mandi juga, jadi bisa mandi. Karena saya belum pernah kesana, saya kira tidak ada kamar mandi, jadi saya tidak membawa anduk. Setelah masuk ke ruangan khusus Putri, saya lirik kanan kiri, banyak ibu-ibu yang masih tertidur. Saya simpan barang bawaan saya lalu ke kamar mandi untuk cuci wajah. Setelah shalat subuh, saya langsung ke bapenta, untuk mendaftarkan diri yang terletak disebelah ruangan khusus Putri. Disana saya diminta mengisi daftar pengunjung, berupa nama, alamat, nama santri, nomor pondok santri, kelas, dan hubungan dengan santri. Setelah itu, ya saya tinggal menunggu santri datang menemui saya.
Jadwal bertemunya kurang lebih:
Jam 6.00 - 7.00 (jadwal makan pagi)
Jam 10.00 - 10.15 (istirahat)
Jam 12.00 - 13.00 (pulang sekolah, tapi bisa juga dari jam 13.00, tergantung jadwal santri)
Dan jam 17.00 - 18.00
Tapi katanya jam 19.00 hingga jam 20.00 juga masih bisa bertemu. Lagi lagi tergantung jadwal santri.
Karena saya akan bertemu pas jam sarapan, saya harus membeli makanan untuk adik saya agar dia tetap sarapan. Saya mah SKSD aja sama ibu2 disana. Nanya2 ternyata ada kantin di depan bapenta atau kalo belum buka, ada di seberang Gontor 2, lumayan 10 menit jalan kaki hehe...
Kalo sudah agak siangan, warung- warung di seberang Gontor 1 juga sudah pada buka kok. Harganya relatif lah ya... sebenarnya tidak terlalu puas sih kangen-kangenan dengan adik. Tapi saya harus hormati jadwalnya, karena pesantren juga disiplin ya, kalo santrinya melanggar ya dihukum. Jadi hari itu, saya harus puas bertemu tiga kali dengan durasi tidak lebih dari satu jam. Sambil menunggu adik saya, saya tidur-tiduran di situ. Meluruskan badan dulu.
Saya berangkat hari Rabu sore dan tiba Kamis pagi. Kamis sore, sekitar jam 2 saya langsung cus ke stasiun walikukun. Saya naik ojek dari depan gerbang. Perjalanan kurang lebih 25 menit. Saya naik kereta Kahuripan jurusan stasiun Kiaracondong. Sebenarnya keretanya baru datang sekitar jam 4, tapi karena saya belum tahu dan saya tidak ingin ketinggalan, saya putuskan untuk ke stasiun lebih awal. Oiya, saya pesan tiketnya melalui kantor pos, nanti bukti pembayaran di kantor pos, ditukarkan di mesin pencetak tiket. Di semua stasiun sudah ada mesin itu. Kalo tidak ada, ya tinggal ke loket dan minta petugas mencetak tiketnya :D
Sebenarnya ada tiga kereta dengan jurusan stasiun Kiaracondong. Tapi... yang waktunya pas dengan yang saya inginkan ya cuma Kahuripan. Ya sudah, naik Kahuripan saja. Kursinya 6 - 4, alhamdulilah saya dapat kursi yang 4. Duduknya berhadap-hadapan ya. Ada stop kontak listrik dan kamar mandinya juga. Kemudian ada 3/4 AC setiap gerbong. Ga perlu khawatir kepanasan sepanjang perjalanan, bosen sudah pasti kalo sendirian :D
Tidak ada pedagang asongan, yang ada hanya petugas dari gerbong restorasi.
Saya tiba di stasiun Kiaracondong sekitar jam 4 kurang, diiringi lagu You're my everything (ost. DOTS) hihihi...
Well begitulah perjalanan saya, total 37 jam. 27 jam di perjalanan dan 10 jam di Gontor. Pulang kerumah? Langsung jadi Putri tidur. Suami berangkat pun saya tidak tahu :D

Daging Kambing bumbu kuning

Momen Idul Adha selalu ditunggu oleh sebagian orang karena pada saat itu orang-orang yang jarang makan daging akan makan daging baik itu sapi maupun kambing :D
Alhamdulilah saya juga kebagian daging kambing. Kali ini saya membuat daging kambing bumbu kuning. Setelah daging dicuci, lumuri dengan jeruk nipis agar tidak terlalu bau.
Bahan:
Kunyit secukupnya
Jahe secukupnya
Bawang merah 5-6 siung
Bawang putih 4-5 siung
Serai secukupnya
Daun salam secukupnya
Ketumbar secukupnya

Cara membuat:
Haluskan bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan kunyit. Tambahkan sedikit garam. Memarkan serai lalu iris menjadi 2, iris jahe agak tipis.
Tumis bumbu halus, serai, jahe, dan daun salam.
Setelah wangi, tambahkan air.
Setelah air mendidih, masukkan daging kambing.
Tambahkan gula dan garam secukupnya.
Rebus hingga daging empuk.

Saya memasaknya sebelum suami pulang, ketika dia pulang dan mencium harumnya masakan, dia langsung makan. Senangnya ^_^
Selamat memasak...

Agar - Agar Oreo



Kali ini mencoba membuat agar - agar dikombinasi dengan oreo kw :D

Bahan:
Agar-agar 1 bungkus,
Tepung maizena ½ sdm,
Gula secukupnya,
Air 3 gelas,
SKM 1 sachet,
Oreo kw (atau asli) 8 buah.

Cara membuat:
Masukkan agar-agar, gula, dan maizena setelah itu tambahkan air. Masak hingga mendidih.
Potong-potong Oreo hingga kecil, letakkan di bawah loyang.
Setelah mendidih, masukkan ke loyang yang telah diberi Oreo.
Karena oreo kw, jadi sebagian meleleh ketika agar-agar yang panas dituangkan. Sebagian lagi mengambang, tapi hasilnya jadi cantik :D
Maizena membuat agar-agar lebih padat, kalo suka yang lebih empuk, maizenanya skip aja ^_^
Selamat mencoba